8.3.11

MUTIARA DARI PESANTREN





Writen By
Muhammad Al Fatih Dipanegara
Adapted From The True Story

Siang itu terasa sangat terik sekali, angin berhembus sangat kencang menampar dinding-dinding tembok tua dengan pasir yang diterbangkannya. Tak ada awan sama sekali, siang itu sangat cerah. Ia berdiri di depan makam tua, di sebuah ruangan di belakang Masjid bersejarah peninggalan zaman pemerintahan Umayyah yang berumur lebih dari 12 abad. Makam itu adalah makam orang yang termasyhur dalam sejarah perang salib, orang yang paling besar jasanya bagi agama islam, orang yang paling dipuji, ditakuti dan sangat disegani oleh rakyatnya serta oleh musuh-musuhnya.
Makam tua itu biasa saja, sederhana dan tidak terlalu mempesona, “kijingnya” lebih tinggi daripada makam-makam yang ada di Indonesia, bentuknya persegi panjang dan atapnya prisma segitiga dengan kain hijau yang menutupi seluruh permukaannya. Makam itu terlihat sangat kusam. Sepi dari peziarah. Ruangan itu menyembunyikan kesedihan yang mendalam bagi siapapun yang berada di sana. Sebuah makam di dalam ruangan sekitar 4 X 6 meter, bentuknya seperti kamar penjara. Warna-warnanya terasa asing baginya, cokelat muda dan abu-abu yang bergaris-garis. Cahaya yang masuk menambah kesan pudar. Sawang dan debu tampak sedikit tebal, meski karpet terhampar memenuhi ruangan. Mungkin jika di makam itu tidak terdapat tulisan yang menyebutkan sebuah nama, orang tidak akan pernah tahu bahwa di sinilah “Sultan Shalahuddin”, atau orang barat lebih mengenalnya sebagai “Saladin”, pahlawan Islam dalam Perang Salib, terkubur dalam keheningan dan kesendirian
Ia coba berdoa untuk arwah sultan Salahuddin, tapi tak satupun kata yang terucap dari mulutnya yang kering karena panas yang luar biasa saat itu. Apalagi Ia sedang berpuasa sunah hari kamis. Dan ini bulan Agustus, puncak-puncaknya udara panas di Damaskus.

Ia benar-benar tersiksa karena tubuhnya tak henti-hentinya mengeluarkan keringat meski dua kancing bajunya sudah dibuka dan sesekali surban dikepalanya terpaksa dibuat handuk, sementara tenggorokan terasa tercekik.
Ia hanya bisa pasrah dan bersabar, matanya tak henti-hentinya menjelajah seisi ruangan. Bukan kesakralan yang Ia rasakan saat itu, tetapi justru kesedihan yang mendalam ketika mengingat kembali sejarah kegagahan sultan Shalahuddin ketika berperang merebut kota Jarusalem. Sungguh ironis sekali bila dibandingkan dengan keadaan makamnya yang kini seolah membisu dalam keterasingan.
Sedikit kisah tentang sultan Saladin, beliau lahir dengan nama Shalahuddin Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, Ia terlahir di daerah dekat Sungai Tigris dari sebuah keluarga Kurdi. Beranjak dewasa Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu kepada pamannya Nur ad-Din yang adalah seorang guru ilmu militer, seorang negarawan Seljuk dan pimpinan pasukan Shirkuh yang pernah dikirim ke Mesir untuk menghadang perlawanan Kalifah Fatimiyah pada tahun 1160.

Setelah sepuluh tahun berguru, akhirnya Sultan Salahuddin berhasil menaklukkan Mesir. Saladin juga berhasil memperbaiki perekonomian Mesir dan mampu mengorganisasi ulang kekuatan militernya. Sultan Shalahuddin akhirnya menjadi pendiri Dinasti Ayyubi serta mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir.
Sultan Shalahuddin dikenal sebagai raja sekaligus panglima perang yang sangat ahli dalam strategi perang, pemimpin umat, dan sekaligus sosok yang santun dan penuh toleransi. Banyak manuskrip yang mencatat "Saladin Sang Raja Mesir" (Saladin, King of Egypt) sebagai simbol kekuasaan Eropa. Namanya tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Perang Salib yang membawa kejayaan Islam, tanpa menindas kaum Kristiani.
Pada bulan Juli 1187, sultan Salahuddin menyerang Kerajaan Jerusalem dan akhirnya Sultan Salahuddin berhasil menaklukkan kota Jerusalem pada 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa. Ia berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan .

Sultan Salahuddin adalah raja yang selalu ikut berperang di garda depan bersama tentara muslimnya. Keberaniannya membuat Ia sangat disegani dan ditakuti oleh musuh-musuhnya. Berbagai medan pertempuran telah dialaminya, dan dalam setiap peperangan itu beliau selalu berpesan kepada pasukannya agar sedapat mungkin meminimalkan pertumpahan darah,hindari untuk melukai wanita dan anak-anak.
Perang Salib III menelan biaya yang tak sedikit dari kubu Kristen. Bahkan Inggris sampai mengucurkan dana bantuan yang dikenal dengan istilah 'Saladin Tithe' (Zakat melawan Saladin) untuk keperluan dana perang khusus melawan pasukan Saladin. Dalam suatu pertempuran, Sultan Salahuddin pernah berhadap-hadapan langsung dengan King Richard I dari Inggris di medan perang Arsuf pada tahun 1191. Di luar perkiraan, Saladin dan King Richard I justru saling berjabat tangan dan menghormat satu sama lain.

Kembali Ia mencoba berdoa di depan makam Salahuddin di kota Damaskus yang panas itu, berdoa untuk arwahnya, juga untuk menghormatinya sebagai salah satu pemimpin Islam terbesar yang sangat diagungkan semasa hidupnya.
Ia menundukkan kepala, menengadahkan kedua tangannya kemudian membaca surat Al Fatihah, doa Nur Nubuwah dan dilanjutkan dengan berdoa untuk Sultan Salahuddin, ditutup dengan membaca salawat Nariyah, Munjiyat ,Syifa’ dan doa sapu jagad. Saat itu Ia hanya sendirian, tak ada satu orangpun yang berada di dalam ruangan itu.
Ia melangkah keluar, berjalan kembali ke lapangan terbuka di halaman dalam masjid, beberapa saat kemudian Ia menjadi teringat ketika mendengar suara penziarah-penziarah Syiah meraungkan tangis, di dekat peninggalan Hussein yang gugur di Kerbala berabad-abad yang lalu.

Ia terdiam, kemudian mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya.
“Astaghfirullahaladziim..., engkaulah Dzat yang maha tahu lagi maha menjaga. Jagalah dan peliharalah keimananku ini yaa Allah. Tiada daya dan upaya kecuali pertolonganmu ya Allah” Bisiknya dalam hati.
Masa lalu memang tidak mudah pergi meskipun kita seperti tak ingin menengoknya atau mengingatnya kembali. Bahkan di salah satu tembok Masjid Umayyah yang dulu adalah Katedral Yahya Pembaptis yang disulap menjadi masjid yang indah di tahun 700-an itu, masih ditemukan sisa tulisan seperti berikut ini: "Kerajaan-Mu, ya, Kristus, adalah kerajaan abadi..." Tulisan itu belum terhapus, meski sudah berabad-abad yang lalu sultan Salahuddin menguasai Jerusalem. Benar-benar sikap toleransi yang sangat luar biasa dari seorang Saladin, penakluk kota Jarusalem yang agung!
Dari ruang makam sultan Salahuddin yang kusam itu, semuanya seakan nyata dan benar adanya. Kesederhanaan semasa hidupnya terbawa sampai sepeninggalannya. Namanya memang tak sebesar makamnya yang memang tidak besar atau tidak terlalu megah. Kisah Salahuddin atau Saladin adalah kisah peperangan dahsyat setelah perang uhud di jaman Rasullullah Muhammad SAW.

Kisah Saladin yang tersebar baik di Barat maupun di Timur dari sejarah Perang Salib yang panjang di abad ke- 12 itu adalah kisah tentang seorang pemberani dalam pertempuran yang memiliki pemikiran brillian dan hati seperti emas yang berkilauan.
Satu hal menarik yang membuat kita bangga memiliki pahlawan Islam seperti Sultan Salahuddin adalah ketika menjelang penyerbuan pasukan islam ke jantung kota Jarusalem, Sultan Salahuddin memberi kesempatan penguasa Kristen kota itu untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melawan pasukannya secara terhormat. Dan ketika pasukan Kristen itu akhirnya kalah, Sultan Salahuddin tidak menjadikan penduduk Nasrani sebagai budak-budak. Sultan Salahuddin justru membebaskan sebagian besar dari mereka, tanpa dendam sedikitpun, meskipun pasukan Perang Salib ketika merebut Jerusalem dulu di tahun 1099 telah membantai 70 ribu orang muslim yang mendiami kota itu dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke Sinagog untuk dibakar. Sultan Salahuddin memaafkan kaum kristen yang sudah dalam keadaan tak berdaya saat itu. Sungguh kepemimpinan sultan Salahuddin adalah inspirasi bagi semua orang yang pernah mendengar tentang kisahnya.

"...Jangan tumpahkan darah... sebab darah yang terpercik tak akan tertidur." Demikian pesan terakhir sultan Salahuddin kepada putranya “Az-Zahir” menjelang kemangkatannya.
Peristiwa yang juga paling berkesan adalah ketika pemimpin pasukan Islam itu bersikap baik kepada Raja “berhati Singa”Richard dari Inggris yang bermaksud untuk mengalahkannya. Ketika raja Richard sakit dalam pertempuran, Sultan Salahuddin mengirimkan buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang dokter untuk raja Richard. Begitu juga saat sultan Shalahuddin mengetahui raja Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor sebagai gantinya.
Karena kebesaran hati sultan Salahuddin saat itu, raja Richard merasa sangat takjub dan baru menyadari bahwa lawannya memang bukan orang yang sembarangan. Ia benar-benar seorang pemimpin yang sangat bijaksana dan pantas saja jika namanya menjadi buah bibir raja-raja di Eropa saat itu. Akhirnya perdamaian pun ditandatangani tepat pada tanggal 1 September 1192.Di medan perang itu, keduanya sepakat berdamai. Bahkan adik Richard dinikahkan dengan saudara Sultan Shalahuddin.
Tak lama setelah kepergian Richard dari Jerusalem, sultan Shalahuddin atau Saladin yang termasyur itu wafat pada tahun 1193 di Damaskus. Sultan Salahuddin hidup hanya 55 tahun, tetapi nama besarnya lebih panjang daripada umurnya. Nama Saladin harum di seantero dunia hingga sampai saat ini. Bukan hanya kalangan Muslim, kalangan non-Muslim juga sangat menghormatinya.

Orang-orang Eropa sangat takjub akan kehebatan sultan Salahuddin. Bagaimana agama Islam bisa melahirkan orang sebaik itu? Kita mungkin sekarang juga takjub bagaimana masa lalu bisa melahirkan orang sebaik itu. Mungkinkah akan ada lagi orang-orang seperti Sultan Salahuddin? Wallahualam.
Pemakaman Sultan besar yang juga sebagai pahlawan islam itu berlangsung sangat sederhana karena saat kotak penyimpanan harta Sultan Salahuddin dibuka, ahli warisnya tidak menemukan cukup uang untuk membiayai pemakamanannya, karena semasa hidupnya Sultan Shalahuddin selalu hidup sederhana dan selalu mendermakan hartanya kepada kaum yang membutuhkan.

Demikianlah kabar perjuangan dari salah satu pahlawan islam yang pernah hidup dan besar di masanya bahkan sampai menembus di masa kini.
Ia masih berdiri terdiam di depan ruangan makam sultan Salahuddin. Sesaat kemudian Ia memandang ke arah langit. Tampak langit yang membiru tanpa awan dengan cahaya matahari yang sangat terik menyilaukan matanya. Tiupan angin membuat jubah dan surbannya berkibar terus seperti hendak lepas dan terbang. Suara adzan menyeruak merobek langit yang membisu, nadanya sangat memilukan. Ia memandang kembali kedalam ruangan kusam itu, ada rasa haru, takjub dan kesedihan yang bercampur di dadanya, Ia merasakan ada yang lain ketika membandingkan dengan makam-makam orang besar yang lainnya.

“Kalau saja kau di lahirkan dan wafat di tanah orang-orang bodoh pasti makam mu akan dipuja bahkan mungkin disembah. “ Bisiknya dalam hati.
Ia memetik hikmah ternyata kuburan memang bukan “altar” untuk tempat pemujaan yang akan menjerumuskan kita kedalam jurang kesyirikan, makam memang hanya sebuah pertanda kesementaraan hidup di dunia, juga keterbatasan seorang pahlawan sehebat apapun dia. Makam hanya sebuah tanda, simbol atau pengingat ketidak kekalan manusia.
Dari makam pahlawan Islam itu, Ia kembali menuju masjid Jami’ Umayyah untuk menunaikan shalat Dhuhur. Masjid yang besar dan megah, luasnya sekitar 150x100m. Dindingnya penuh dengan hiasan kaligrafi dan lantainya beralas keramik dari dalam sampai ke halamannya. Mungkin ini adalah masjid terbesar di jamannya, Di sebelah timur masjid itu terdapat makam dimana kepala nabi Yahya AS dikuburkan. Tepatnya di bawah tiang masjid yang dikenal dengan tiang “Sakaakik”, letaknya di shaf kedua dekat ruangan mihrab masjid.

Nabi Yahya AS meninggal karena disembelih di usianya yang ke sembilan puluh lima tahun oleh kaum Yahudi. Badan beliau dipercaya dikuburkan di Palestina. Sementara lengan-lengan beliau dikuburkan di Beirut dan kedua kaki beliau di kuburkan di Shida.

Ia tampak sangat serius mendengarkan penjelasan dari pemandu yang kembali menemaninya beberapa saat setelah Ia keluar dari dalam ruangan makan sultan Salahuddin. Hanya mendengarkan, tak ada satu katapun yang terucap dari mulutnya. Sesekali sang pemandu sedikit bingung dan tersinggung tapi kemudian kembali mencoba untuk mengerti.
Ia langsung masuk ke dalam masjid, sedangkan sang pemandu lebih memilih duduk di luar masjid. Saat itulah Ia berani bertanya kepada sang pemandu.
“Tidak shalat.........?”
“Maaf....saya lagi berhalangan”
Tanpa menjawab apa-apa lagi, Ia segera bergegas masuk dengan terburu-buru menaiki anak tangga.

Kembali,
Seusai menunaikan shalat Dzuhur Ia langsung menuju pusat kota Damaskus, lewat pasar Hamiddiyeh yang sibuk. Saat itu Ia hanya berdua dengan pemandu yang adalah mahasiswi Indonesia semester dua yang sedang kuliah di Universitas Damaskus Fakultas Syari’ah, dan memang ditugaskan oleh sahabat ayahnya khusus untuk menemaninya keliling kota Damaskus. Sang pemandu orangnya sangat supel, cerdas, tipe perempuan yang berbicara cepat dan sepertinya memang sangat paham sejarah dan budaya Kota Damaskus, selain itu dia juga sangat cantik. Itu sudah terlihat dari tatapan matanya yang bening dan memancarkan cahaya kemuliaan. Dari awal perkenalan, sang pemandu tak pernah berhenti menjelaskan segala sesuatu yang diketahuinya tentang kota Damaskus. Meski sedikit bosan dan terganggu dengan ocehannya, Ia merasa cukup senang karena bisa lebih mengenal kota Damaskus dan masyarakatnya. Ia sama sekali tak menunjukkan ketertarikan sedikitpun kepada sang pemandu yang bercadar itu, Ia hanya tertarik pada penjelasannya saja tak lebih. Ia memang tipe laki-laki dingin dan sangat pendiam. Ya...begitulah Lintang!

“Damaskus ,dalam bahasa arab disebut Dimasyiq , atau juga disebut Asy-Syama adalah ibukota negara Suriah atau Syiria, negara tertua di dunia yang dihuni sejak 2000 tahun SM. Sebuah kota dengan menara-menara masjid yang menjulang tinggi-tinggi. Kota Damaskus merupakan salah satu kota tertua di dunia, selain Al-Fayyum dan Gaziantep” Demikian sang pemandu menjelaskan dengan penuh semangat sambil berjalan. Sementara Lintang hanya mendengarkan sesaat kemudian kembali memalingkan muka.
Di dalam kerumunan orang-orang yang bergerak sibuk dalam pasar tradisional yang sangat padat itu, Ia berjalan sangat terburu-buru sekali menuju jalan raya agar bisa sesegera mungkin kembali ke dalam mobil dan cepat-cepat pulang, sang pemandu bahkan sampai beberapa kali terjatuh menabrak kerumunan orang karena tak terbiasa berjalan cepat.

“Hey.....tunggu...jangan cepat-cepat!”Teriak sang pemandu sambil sibuk membenahi cadarnya yang tersibak karena terjatuh.
Lintang berhenti sejenak, memandang wajah sang pemandu kemudian kembali berjalan lebih cepat lagi.

Lintang baru menyadari bahwa ayahnya pasti sudah lama menunggu. Sore itu sebenarnya Ia harus segera bergegas untuk kembali pulang ke Indonesia bersama ayahnya. Meski hanya satu hari di Damaskus, Ia masih menyempatkan diri untuk datang ke makam Sultan Salahuddin karena jarang-jarang Ia bisa ke Damaskus. Saat itu hanya kebetulan saja. Setelah pulang dari Makkah seusai menjalankan ibadah Umroh berdua dengan ayahnya, kemudian ayahnya memutuskan untuk singgah satu hari di Damaskus karena ingin mengunjungi sahabatnya yang tinggal disana. Seorang Syech besar yang memiliki ribuan murid dari berbagai negara. “Syech Muhammad Asad Al Iraqi” namanya. Lintang hanya sekali saja melihatnya, ketika Syech Asad datang berkunjung kerumahnya di kota Bangkalan- Madura. Dan itu sudah sepuluh tahun yang lalu.
Akhirnya setelah melalui jalanan yang padat dan panas, Lintang sampai juga di rumah Syech Asad. Ayah Lintang sedang berbincang bersama Syech Asad di ruang tamu saat itu.

Syech Asad adalah sahabat ayah Lintang semasa menuntut ilmu di Universitas Damaskus. Kini beliau sudah diangkat menjadi guru besar di sana, sekaligus merangkap sebagai dosen di Yayasan Pendidikan Syaikh Ahmad Kaftaro dan Universitas Al fatah Al islamiyyah. Sedangkan ayah Lintang KH. Muhammad Saud Al Fateh, lebih memilih mendirikan pondok pesantren di kota kecil Bangkalan-Madura menjalankan amanah dari ayahnya.

Syech Asad sudah menikah tiga kali, namun sudah tiga kali juga isterinya meninggal. Dari tiga kali pernikahannya, beliau belum dikaruniai anak. Sampai kini Syech Asad tidak pernah menikah lagi. Karena itu, Syech Asad kini mengangkat 40 anak yatim menjadi anaknya dan kini tinggal bersama di rumahnya yang megah. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya rumah Syech Asad setiap harinya.

Syech Asad berasal dari India, Beliau adalah keturunan Arab-India, namun sangat fasih berbahasa Indonesia. Kulitnya putih bersih, badannya sangat tinggi tegap dan janggutnya sangat lebat. Namun kedua matanya buta karena terkena ledakan bom sewaktu beliau ikut berperang di Palestina melawan tentara zionis Israel. Namun meskipun beliau buta, hatinya tidak buta. Beliau bisa berjalan normal meski tanpa ada orang yang menuntunnya. Beliau bahkan bisa mengenali seseorang hanya dari suaranya saja. Syech Asad bukan ulama sembarangan. Beliau memiliki karomah yang sudah sering disaksikan oleh sahabat-sahabatnya. Salah satu karomah yang pernah disaksikan oleh ayah Lintang adalah ketika Syech Asad menyuarakan adzan di masjid Bangkalan sepuluh tahun yang lalu. Saat itu listrik sedang padam, namun suara Syeh Asad bisa tetap menggema bahkan sangat lantang sampai terdengar ke seluruh pelosok kota. Peristiwa itu sempat mengejutkan seluruh warga kota Bangkalan.

Mengenai kebutaan mata Syech Asad, ayah Lintang pernah berpesan “Jangan bersedih hanya karena kau kehilangan matamu, masih jauh lebih baik daripada kehilangan keimananmu. Kau seharusnya justru bersyukur karena ada hadist yang mengatakan
“Dari Anas ra, dia berkata, :Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt berfirman: Jika aku menguji hamba-Ku dengan mengambil kedua kecintaannya lalu ia bersabar, maka Aku akan menggantinya dengan surga”. Maksud dari kedua kecintaannya yaitu dua penglihatannya. Hadist ini sahih dan diriwayatkan oleh Bukhari.

Ketika mendengar pesan dari ayah Lintang saat itu, Syech Asad menitiskan air mata, kemudian memeluk tubuh ayah Lintang. Kejadian itu saat Syech Asad dan ayah Lintang masih sama-sama menjadi mahasiswa di Universitas Damaskus dulu.
Kalau sedang berbicara dengan siapapun, Syech Asad selalu mengurai janggutnya dengan jari-jari tangannya sambil mendengarkan dengan seksama seakan tak ingin melewatkan satu katapun dari lawan bicaranya. Dan yang sangat spesial dari beliau adalah selalu murah senyum dan selalu menghargai dan menghormati terhadap siapapun. Wajahnya selalu ramah dan tak pernah sekalipun murung atau terlihat susah. Menurutnya semua itu Ia lakukan karena merupakan sunnah Rasul, termasuk membiarkan jenggotnya tumbuh lebat secara alami.

“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”
Lintang langsung bersalaman dengan Syech Asad dan ayahnya. Sementara sang pemandu berdiri tepat di belakang Lintang. Mereka berdua segera duduk disamping ayah Lintang.

“Ini anakku Lintang” Ucap Kyai Saud.
Saat pertama kali tiba di rumah Syech Asad, Lintang sempat terkejut dan merasa asing melihat sosok Syech Asad. Sepuluh tahun yang lalu janggutnya masih hitam, kini sudah hampir semuanya memutih dan semakin panjang. Sama persis dengan ayahnya. Namun satu hal yang masih sama, beliau tetap memakai jubah dan surban putih, juga tasbih dari kayu yang selalu melekat di tangannya dan tak pernah berhenti diputar setiap saat.

“Bagaimana...? asyik kan kota Damaskus?” Ucap Syech Asad.
“Benar-benar kota bersejarah yang indah, syech....!”Jawab Lintang singkat.
“Oh iya....kalian sudah berkenalan kan?ini adalah mahasiswi terbaikku, Ia juga salah satu anak angkatku yang ke tujuh. Dia juga berdarah Indonesia, ibunya orang Surabaya dan ayahnya orang Arab. Bagaimana..........?Lintang anaknya asyik kan ?”
“Iya...Syech...” Falihah menjawab sambil memandang dan melemparkan senyum ke arah Lintang dari balik cadarnya yang tipis. Seperti biasa Lintang hanya diam dengan ekspresi datar.

“Kalau kamu ingin napak tilas Sultan Shalahuddin, seharusnya kamu juga datang ke kota Kairo Mesir. Disana ada benteng yang dibangun oleh Shalahuddin Ayubi pada tahun 1183 M untuk mengawasi kota Kairo dari bukit Mukattam. Di sekitar benteng itu terdapat beberapa peninggalan sejarah, seperti Masjid Alabaster, Masjid Sulaiman Pasha dan Dinding Yosep. Ajaklah ayahmu kesana. Biar nanti Falihah aku suruh menemanimu kembali”
Lintang hanya tersenyum dan menatap kearah Falihah, kemudian segera berpaling ke arah ayahnya yang hanya tersenyum hambar.

Cukup lama mereka berbincang, sampai menjelang waktu ashar. Setelah menunaikan shalat Ashar berjamaah, Lintang dan ayahnya berpamitan pulang.
Selama berada di rumah Syech Asad yang megah itu, Lintang dan ayahnya merasa seperti seorang raja. Mereka diperlakukan bak tamu agung yang mengunjungi istana raja. Menjelang pulang, Syech Asad sempat berpesan kepada ayah Lintang
“Jangan lupa, esok kirim saja anakmu kesini. Biar dia aku didik dengan sebaik-baiknya. Semua keperluannya biar aku yang menanggung.” Ucap Syech Asad dengan tatapan yang ramah sambil bersalaman dengan ayah Lintang.

“Insya Allah kalau Lintang sudah kuanggap siap” Jawab ayah Lintang mantap.
Sementara Lintang hanya tersenyum saja meski sebenarnya Ia tidak begitu mendengarkan pembicaraan keduanya karena sibuk mengamati lantai marmer, perabotan mewah, dinding-dinding kokoh yang dihiasi tulisan kaligrafi dan lampu kristal yang menggantung sangat indah di rumah Syech Asad yang sangat megah itu.


------------***---------------


SEBUAH DINASTI

Selamat datang di sebuah dinasti kecil...!
Miniatur kerajaan dengan kekuasaan absolut yang dipegang oleh satu orang pemimpin dengan kekuasaan yang hanya dibatasi oleh peraturan perundang-undangan yang bernama syariat Islam dengan sumber dari segala sumber hukumnya adalah Al quran dan Hadist. Kekuasaan seorang raja dipercaya berasal dari Tuhan dan didapatkannya dari garis keturunan. Sistem pemerintahan kerajaan ini mirip “Monarkhi” tapi juga ada unsur “Sosialisme”,dan sedikit aroma “ Demokrasi”. Sebuah miniatur kerajaan kecil bernama “Pondok Pesantren BABUR ULUM”.
Raja bergelar “Syech” atau “Kyai” atau “Gus”. Kedudukan dan kekuasaannya tidak dapat diganggu gugat. Punya permaisuri dan beberapa selir yang bergelar “Nyai”. Putra mahkotanya bergelar “Bindêrêh”. Untuk menjalankan pemerintahannya sang raja dibantu oleh beberapa Rakyan atau menteri yang dikepalai oleh sang Perdana menteri yang bergelar “Khadam”. Rakyatnya adalah para santri yang tunduk dan sangat mengagungkan rajanya. Mereka semua belajar ilmu dan bekerja untuk raja dan keluarganya, sisanya sedikit untuk kebutuhan mereka sendiri.
Sebagai seorang raja, hidupnya sangat berkecukupan dan berlimpah kehormatan juga kemuliaan. Dari dirinya sendiri sampai keluarganya, semua pasti dihormati oleh rakyatnya karena adanya unsur kemuliaan yang turun menurun dari generasi ke generasi. Adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi rakyat atau para santri jika dapat menatap dan berbicara langsung dengan sang raja atau keluarganya apalagi sampai mencium tangannya. Itu adalah berkah yang tak ternilai. Sang raja sedikit sekali terlihat bekerja di siang hari, hanya melayani tamu dari luar yang memiliki hajat bermacam-macam. Dari pekerjaan, jodoh, jabatan, petunjuk, dukungan atau restu mungkin juga ilmu kesaktian. Karena di sepanjang malam pekerjaan utama sang raja adalah beribadah, berwirid kepada Allah SWT untuk menjaga kharismanya.
Bagi para santri, dapat melayani raja dan keluarganya adalah sebuah kebanggaan dan berkah tersendiri. Saat berbicara dengan sang raja, mereka berpantang untuk menatap wajahnya sebab menurut keyakinan mereka, pasti mereka tak akan kuat memandang sinar kemuliaan yang terpancar dari wajah sang raja. Karena itu, memandang wajah sang raja dianggap sebagai hal yang tabu untuk dilakukan. Saat mendengar khotbah atau berbicara dengan sang raja, mereka pasti menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil membuka telinga dan hati lebar-lebar, sebab setiap perkataan sang raja adalah hikmah yang hanya bisa ditangkap oleh hati yang bening saja. Demikian pula untuk masuk atau sekedar melewati rumah tempat tinggal sang raja dan keluarganya tanpa maksud yang jelas, adalah hal yang sangat terlarang bagi para santri.
Kewajiban para santri adalah mengabdi dan belajar sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Apabila sang kyai menilai seorang santri sudah cukup ilmunya, maka sang santri tersebut diperbolehkan untuk pulang dan mengamalkan ilmunya kepada masyarakat luas. Para santri ada yang belajar dan mengabdi hanya beberapa bulan saja, ada yang bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun bahkan ada juga santri yang memilih untuk mengabdi sepanjang hidupnya untuk sang kyai dan keluarganya.
Ini adalah sebuah dinasti kecil, miniatur kerajaan dimana setiap maksud dan keinginan sang raja tak boleh dipertanyakan apalagi untuk ditentang. Rakyat hanya bisa tunduk dan menurut saja. Merah kata raja adalah merah kata rakyat, lawan..!! kata raja, berarti lawan sampai mati bagi rakyatnya. Aroma demokrasi hanya sedikit sekali, itupun hanya untuk kalangan keluarga sang raja sendiri dan menteri-menteri kepercayaannya sementara rakyat tidak memiliki hak berpendapat sama sekali. Hal itu sangat kuat terasa ketika sang raja berkhotbah dihadapan rakyatnya, meski ada sejuta pertanyaan dihati rakyat namun tak satupun rakyat yang berani mengungkapkan pendapatnya, mereka lebih memilih diam dan meng-Iyakan semua ucapan yang terlontar dari mulut sang raja sekalipun itu sebenarnya bertentangan dengan bisikan dalam hati rakyat.
Meski begitu, kekuasaan dan kemuliaan sang raja juga dipengaruhi oleh ilmu yang dimilikinya. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki sang raja, maka semakin kuat pula kharisma yang dipancarkannya sehingga turut mempengaruhi pengabdian rakyat kepadanya. Ilmu itulah kunci kemuliaan bagi sang raja, tanpa itu Ia akan kehilangan kharisma dan kewibawaan meskipun sebenarnya masih tetap dihormati karena latar belakang keturunannya. Ilmu itu adalah ilmu agama dan ilmu kesaktian yang disebut juga dengan “kharomah”. Untuk mendapatkan ilmu agama yang tinggi mungkin semua santri bisa, tapi untuk mendapatkan ilmu kharomah tidak sembarang orang bisa karena ilmu kharomah itu dipercaya sebagai anugerah langsung dari Allah dan hanya Allah yang bisa mencabutnya kembali. Itulah yang membedakan antara sang raja dan rakyat biasa.
Sebagai sebuah kerajaan kecil, maka tidak berdiri sendiri. Sang raja memilih menjalin hubungan kerja sama antar kerajaan atau pondok pesantren yang lain untuk menghimpun kekuatan. Perkumpulan para raja-raja tersebut terhimpun dalam sebuah perkumpulan agung bernama “majelis” dan diketuai oleh raja yang dianggap paling tinggi ilmunya atau paling besar kekuasaan dan kemuliaannya. Dalam majelis itulah sebuah imperium besar terbentuk menjadi satu kekuatan raksasa yang siap melawan segala sesuatu yang dianggap dapat merugikan kepentingan para raja atau agama.


BABUR ULUM


Pukul 02.00 dini hari.
Suara-suara bising mulai bergema di dalam pondok pesantren yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Pondok pesantren yang terlihat sederhana tapi memiliki 1000 lebih santri. Ada yang berasal dari kota sendiri, luar kota, bahkan sampai dari luar pulau segala. Terakhir pernah juga kedatangan 2 santri yang berasal dari negeri Suriah.

Pondok Pesantren “BABUR ULUM” terletak di pinggiran kota santri Bangkalan-Madura, di tepi pantai tepatnya. Pondok pesantren yang beraliran Salafiah atau tradisional itu memang sangat terkenal keberadaannya. Selain karena pengasuhnya sendiri yang cukup disegani juga karena pondok pesantren ini sering melahirkan ulama-ulama muda yang terkenal lantang menyuarakan dan memperjuangkan ide penerapan syariat Islam ke dalam tatanan negara.

Ayah Lintang, KH. Muhammad Saud Al Fateh adalah pendiri pondok pesantren itu 20 tahun yang lalu. Beliau adalah seorang ulama besar yang sangat dikenal dan disegani oleh masyarakat Madura, selain karena ilmunya yang tinggi dan seorang yang hafal Al Quran, beliau juga terkenal karena sikap revolusionernya yang menyebabkan beliau harus sering berurusan dengan pihak aparat sebab kritik-kritik pedasnya terhadap pemerintah.

KH. Muhammad Saud Al Fateh adalah putra pertama dari mantan bupati Sumenep KH. Ahmad Sarkawi yang bergelar K.A (KI Ageng) karena beliau masih keturunan dari keluarga Keraton Sumenep. Sama dengan putranya, KH. Ahmad Sarkawi juga seorang ulama besar yang sangat terkenal. Hafal al Quran dan hadist-hadist sahih, juga dikenal sebagai pemimpin yang berani dan miskin.Meski menjabat sebagai bupati Sumenep selama hampir 25 tahun, beliau tidak meninggalkan harta kekayaan berupa apapun untuk anak dan isterinya selain hanya beberapa kitab-kitab tua asli dari negeri Arab dan hasil tulisan tangan KH. Ahmad Sarkawi sendiri. Kini semua kitab itu tersimpan dalam museum di kota Sumenep karena dianggap memiliki nilai sejarah.
Pondok pesantren BABUR ULUM tidak sebesar pondok pesantren Tebu Ireng atau Darut Tauhid. Luasnya hanya seluas lapangan sepak bola saja, itu sudah termasuk bangunan masjid megah di tengahnya, rumah sederhana keluarga Kyai di samping kanan masjid, perpustakaan dan ruang belajar para santri yang bertingkat tiga di samping kiri masjid , sebuah halaman kosong yang dipenuhi pohon waru, pepaya dan camplong di depan masjid serta jajaran pondok-pondok kecil dari kayu tempat para santri tinggal yang dipenuhi pohon pisang berada tepat di belakang masjid. Sementara di samping kanan dan kiri pondok pesantren tersebut adalah tambak ikan milik Kyai Saud dan di belakang pondok tersebut adalah areal pemakaman umum yang cukup luas.

Sudah hampir setahun pondok pesantren ini menjadi buah bibir nasional dan setiap hari selalu ada saja wartawan yang berkunjung. Ada yang benar-benar wartawan ada juga yang menyamar sebagai seorang wartawan atau bahkan menjadi seorang santri, padahal sebenarnya hanya seorang intel yang ditugaskan untuk mengawasai kegiatan pondok BABUR ULUM ini. Terlepas dari itu semua, Kyai Saud selalu menemui dan menjamu mereka dengan baik dan ramah. Tanpa menaruh curiga sedikitpun beliau tetap menganggap semua tamu yang berkunjung adalah raja. Baginya, meskipun seorang penjahat sekalipun kalau dia berniat bertamu harus kita layani dengan sebaik-baiknya. Demikianlah Rasul mengajarkan bahwa kita wajib melayani tamu dengan sebaik-baiknya selama tiga hari berturut-turut, meski tamu menginap sudah lebih dari tiga hari kita masih tetap harus melayani tamu dengan sebaik-baiknya hanya saja apa yang kita berikan dianggap sebagai sedekah bukan lagi sebagai kewajiban. Tamu yang datang sebenarnya adalah utusan Allah secara tak langsung.

Kyai Saud dituduh sebagai seorang teroris karena sikap kontroversialnya kepada pemerintah selama ini. Kritik-kritik tajam dan seruan berjihad kepada para kaum muslim telah mengantarkan beliau sebagai ulama yang paling disegani di seluruh Madura. Hampir semua kyai Madura mendukung perjuangan beliau. Salah satu bentuk perjuangannya adalah mengajak semua masyarakat Madura untuk menolak pembangunan jembatan SURAMADU (Surabaya-Madura) karena dianggap akan merusak kebudayaan asli masyarakat Madura sebab pengaruh dari peradaban kota besar yang beliau anggap sebagai peradaban kaum kafir..!

Malam dini hari, suasana pondok pesantren “Babur Ulum” sudah sangat sibuk. Semua santri sudah bangun dan berebut mengambil air wudlu untuk segera bergegas menuju masjid. Kyai Saud sudah menunggu di dalam masjid, beliau memang tak pernah tidur semalam suntuk.Entah apa yang dikerjakannya,dulu pernah ada santri yang secara tak sengaja terbangun di malam hari dan menyaksikan Kyai Saud sedang duduk di dalam masjid sendirian sambil berbicara seperti sedang memimpin sebuah rapat besar yang sangat penting. Si santri saat itu benar-benar penasaran, kemudian Ia menghampiri Kyai Saud dan menyapa dengan salam. Alangkah terkejutnya si santri ketika Ia mendengar jawaban salam seperti suara dari ribuan orang. Ketika si santri hendak pergi karena merasa takut, Kyai Saud memanggilnya dan memberitahukan kepadanya bahwa beliau sedang berkhotbah di hadapan para Jin. Begitulah cerita yang sampai saat ini beredar di kalangan santri, kisah itu seakan menjadi pembuktian dari salah satu karomah yang dimiliki oleh Kyai Saud.

Suara-suara binatang malam, angin laut dan desiran ombak seakan turut mengisi kesibukan pondok pesantren yang mulai ramai dengan suara-suara tahlil. Setelah menjalankan shalat sunnah Tahajjud, para santri berkumpul untuk berdzikir bersama-sama. Malam-malam di pondok pesantren “Babur Ulum”benar –benar sangat sakral dan mengharukan. Tidak hanya para santri, penduduk sekitar juga sering datang ke masjid untuk shalat tahajjud dan mendengarkan ceramah dari Kyai Saud yang dipercaya mengandung barokah bagi siapapun yang mendengarnya.
Setelah Dzikir selesai, Kyai Saud segera duduk di depan para jamaah untuk memberikan ceramahnya.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

Jawaban salam dari ratusan santri dan beberapa jamaah dari masyarakat sekitar tiba-tiba membahana dari dalam majid megah yang memecahkan keheningan malam saat itu.

“Alhamdulilah kita masih diberkahi rahmat dan hidayah oleh Allah SWT, sehingga kita masih bisa melaksanakan shalat Tahajjud dan dzikir bersama. Ini adalah suatu nikmat yang harus selalu kita syukuri, karena saat ini mungkin banyak umat muslim yang tertidur lelap, bekerja, atau sedang melakukan maksiat hingga tidak bisa mengerjakan shalat Tahajjud. Shalat Tahajjud itu adalah suatu macam amal yang senantiasa dijadikan “Amalan Wirid” oleh Rasulullah SAW, para sahabat, ulama dan shalihin”

Suara Kyai Saud benar-benar membius para jamaah. Rasa kantuk seakan lenyap. Jamaah laki-laki dan jamaah perempuan seakan membisu dan tak ada satu orangpun yang berani berbicara atau saling berbisik satu sama lainnya.

“Berkali-kali saya ingin menegaskan bahwa janganlah sekali-kali meninggalkan shalat Tahajjud karena pahala dan faedah dari shalat Tahajjud ini sangat besar. Sebagaimana Allah menegaskan dalam Al Quran surat Al Isra; ayat 79 yang artinya: Hendaklah engkau gunakan sebagian waktu malam hari, maka Tahajjud sebagai tambahan bagimu mudah-mudahan Allah memberikan padamu kedudukan yang baik. Demikian juga dalam hadist riwayat muslim, Rasulullah SAW bersabda: Perintah Allah turun ke langit dunia di waktu tinggal sepertiga yang akhir dari waktu malam. Lalu berseru, adakah orang-orang yang berdoa pasti akan kukabulkan, adakah orang yang meminta, pasti akan kuberikan dan adakah yang mengharap atau memohon ampunan, pasti akan kuampuni baginya, sampai tiba waktu subuh. Demikian hadist rasullullah SAW mengenai shalat Tahajjud. Shalat Tahajjud memiliki banyak faedah bagi siapapun yang mengerjakannya, diantaranya adalah wajahnya akan memancarkan cahaya keimanan, akan dipelihara oleh Allah dirinya dari segala macam marabahaya, setiap perkataannya mengandung arti dan diturut oleh orang, akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang yang mengenalnya, dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah yang bercahaya, diberi kitab amalnya di tangan kanannya, dimudahkan hisabnya dan berjalan di atas shirath bagaikan kilat.

Demikianlah keistimewaan dari shalat Tahajjud akan memberikan manfaat kesenangan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Sekali lagi jangan sekali-kali meninggalkan shalat Tahajjud”
Kyai Saud membalik badan ke arah kiblat kemudian menengadahkan kedua tangannya ke atas dan berdoa. Sementara seluruh jamaah mengamininya secara serentak. Malam yang sunyi, saat itu terasa semakin sakral.

Lintang yang saat itu berada di barisan shaf paling depan, tampak larut dalam kekhusyukan.

-----------------------------------

Pagi hari setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah, suasana pondok pesantren BABUR ULUM seakan tiba-tiba saja menjadi sibuk. Sebagian santri perempuan ada yang bertugas menyapu halaman, ada yang menyirami tanaman, ada yang membersihkan ruang kelas, ada yang pergi ke pasar dan ada yang sudah mulai membakar kayu untuk memasak. Sementara sebagian santri laki-laki ada yang membersihkan kamar mandi, menimba air dari sumur, membelah kayu untuk kayu bakar dan sebagian ada yang pergi mengurus tambak milik Kyai Saud. Semua santri bekerja saling bergotong royong dengan semangat yang tinggi.

Apabila matahari sudah mulai sedikit naik, kira-kira pukul 07.00. Semua santri segera sibuk antri untuk mandi, kemudian sarapan pagi bersama-sama. Makanan di pondok itu semuanya dibuat oleh para santri sendiri karena itu terkadang mereka harus rela makan nasi setengah matang atau setengah menjadi bubur. Lauknya pun hanya sebatas tahu dan tempe, kadang-kadang saja ikan laut dan itupun kalau tambak Kyai Saud sedang panen saja. Untuk sayur biasanya para santri mengambil sayuran dari kebun yang mereka tanam sendiri seperti kangkung, daun singkong , daun pepaya atau daun kelor. Menjadi santri di pondok pesantren BABUR ULUM memang memerlukan kesabaran dan keteguhan yang ekstra.

Tepat pukul 08.00, semua santri baik laki-laki maupun perempuan sudah harus berkumpul di dalam masjid untuk melaksanakan shalat sunnah Dhuha berjamaah. Sebab menurut Kyai Saud, shalat Dhuha akan melapangkan rizki dan memudahkan kita dalam mempelajari ilmu Allah. Selain itu, shalat Dhuha banyak sekali keutamaannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadist riwayat Tirmidzi : Barangsiapa yang melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua belas rakaat maka Allah akan membangunkan untuknya istana di surga yang terbuat dari emas. Dan barangsiapa yang senantiasa melaksanakan shalat dhuha maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. Demikian pula dalam hadist riwayat Muslim, Rasulullah mengatakan : Bahwasannya setiap anggota kalian bisa bersedekah, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah, dan semua itu bisa dicukupkan dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu dhuha.

Setelah melaksanakan shalat Dhuha, para santri masuk kedalam kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Masing-masing kelas dibedakan sesuai dengan tingkatan ilmu yang dipelajari oleh santri. Ada yang masih tingkat dasar, yakni mempelajari ajaran dasar agama Islam, sejarah agama islam, bahasa arab, membaca dan menulis huruf arab. Ada yang khusus mempelajari hukum-hukum Islam, al Quran dan Hadist. Ada yang khusus mempelajarai ilmu fikih, falaq,dan Al jabar. Dan untuk tingkatan yang paling atas adalah khusus mempelajari ilmu tasawuf. Ilmu tertinggi yang diajarkan adalah ilmu tarekat dan makrifat, namun hanya santri terpilih saja yang bisa mempelajarinya. Semua kegiatan pembelajaran dilakukakan oleh santri senior yang ditunjuk oleh Kyai Saud sendiri sebagai ustad. Namun untuk kelas yang paling atas, yakni yang sudah pada tahap mempelajari ilmu tasawuf, tarekat dan makrifat biasanya Kyai Saud sendiri yang akan mengajar para santrinya.

Kegiatan pembelajaran berlangsung dari pagi sampai menjelang siang hari. Sore hari setelah melaksanakan shalat ashar, para santri diwajibkan untuk membaca surat Al Waqiah dan Ar Rahman agar selalu dilimpahi rizki dan rahmat oleh Allah SWT. Setelah itu, sambil menunggu waktu magrib biasanya para santri mengisinya dengan bermain dan berolahraga sementara yang lain ada yang lebih memilih untuk belajar atau tidur.
Menjelang magrib, kesibukan di dalam pondok akan terasa kembali. Para santri kembali harus bergegas mandi dan bersiap menuju masjid untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah, berdzikir, mendengar ceramah Kyai Saud hingga menunggu waktu shalat isya’. Baru setelah pukul 08.00 malam, para santri diperbolehkan untuk beristirahat. Namun para santri lebih memanfaatkan waktu luang tersebut untuk jalan-jalan keluar pondok, nonton TV di rumah penduduk sekitar, karena di dalam pondok para santri dilarang membawa TV atau hanphone sebab akan mengganggu kekhusyukan dalam belajar maupun beribadah, ada yang memilih untuk belajar, ada yang lebih suka mengobrol di dalam kamar masing-masing, ada yang memilih untuk langsung tidur hingga menjelang tengah malam nanti. Di saat-saat itulah biasanya Kyai Saud akan berjalan berkeliling mengamati para santrinya untuk mengetahui siapa santri yang rajin dan siapa santri yang malas.

Kegiatan sehari-hari para santri di pondok pesantren BABUR ULUM memang sangat padat dan ketat sekali, karena itu sering kali ada saja santri yang kabur melarikan diri dari pondok sebab merasa tak kuat atau tidak betah belajar di dalam pondok pesantren tersebut. Apabila sampai terjadi hal demikian, Kyai Saud biasanya akan menugasi seorang santri kepercayaannya untuk menjemput kembali santri yang melarikan diri ke rumahnya. Jika tidak mau, Kyai Saud tidak akan memaksa lagi. Berarti Ia belum mendapatkan hidayah atau petunjuk dari Allah SWT, demikian keyakinan Kyai Saud.

Meski Kyai Saud terkenal sebagai orang yang sangat disiplin, namun Ia bukanlah sosok yang otoriter kepada santrinya, Kyai Saud adalah sosok yang bijaksana, penyabar, rendah hati dan tegas. Kehidupan sehari-hari Kyai Saud sangat sederhana, Ia sering sekali berpuasa, jarang sekali makan enak, setiap hari selalu memakai sarung dan surban di kepalanya, juga tasbih kayu yang tak pernah berhenti diputar selalu melekat di tangannya. Gaya bicaranya sangat santun kepada semua orang termasuk kepada para santrinya, namun ketika sedang berceramah suaranya sangat lantang, tegas dan berani. Sikap seperti itulah yang membuatnya disegani dan dihormati oleh para ulama juga santri-santrinya.

Selain dikenal sebagai seorang ulama terkenal dan pengasuh pondok pesantren BABUR ULUM, kyai Saud juga terkenal sebagai penulis kitab yang cukup diperhitungkan. Diantara kitab-kitab karangannya bahkan ada yang sudah menjadi koleksi perpustakaan Universitas-universitas islam terkemuka di dalam maupun di luar negeri. Kitab karangannya yang cukup terkenal adalah salah satu kitabnya yang berisi tentang seruan kepada seluruh umat muslim untuk berjihad menegakkan kembali syariat Islam di muka bumi ini.

Kyai Saud memang tak pernah berkompromi kepada siapapun yang berani memusuhi Islam. Ia bahkan berani bentrok secara fisik jika memang diperlukan. Hal itu pernah terjadi ketika Pemerintah kota Bangkalan berniat akan mengadakan pesta dangdut di alun-alun kota untuk menyambut hari jadi kota Bangkalan sekaligus merayakan keberhasilan meraih piala Adipura untuk yang pertama kalinya. Namun karena acara tersebut bersamaan dengan acara pengajian yang juga akan diadakan tak jauh dari alun-alun kota, maka Kyai Saud menegur pihak pemerintah untuk membatalkan acara pesta dangdut tersebut.Teguran pertama, kedua sampai yang ketiga tak juga mendapatkan respon positif dari pihak pemerintah kota Bangkalan saat itu.
Pemerintah tetap mengadakan acara pesta dangdut tersebut, dan hal itu membuat Kyai Saud tersinggung. Akhirnya Kyai Saud bersama dengan Kyai-kyai lainnya sepakat mengerahkan para santrinya untuk membubarkan acara pesta dangdut yang rencananya akan digelar sangat megah dan meriah tersebut. Ketegangan antara para kyai Bangkalan dengan pihak pemerintah sudah menjadi hal yang biasa terjadi.

Akhirnya, beberapa saat selepas adzan Isya’ berkumandang, tiba-tiba saja para santri yang berjumlah ribuan orang berkumpul di alun-alun kota dengan pakaian biasa layaknya orang yang pergi menonton pesta dangdut. Masyarakat yang hendak menonton pesta dangdut segera berhamburan membubarkan diri seakan sudah mencium ada sesuatu yang tidak beres.

Satu orang keluar dari kerumunan para santri dengan membawa sebuah obor yang menyala, berpakaian jubah serba hitam dengan kaos dalam bergaris merah dan putih khas pakaian orang Madura. Orang itu adalah kyai Saud yang menyamar. “Allahu akbar.....Allahu akbar.......Allahu akbar” kyai Saud meneriakkan takbir tiga kali dan diikuti oleh para santrinya. Obor dilemparkan ke arah panggung, masyarakatpun berhamburan berlarian tak tentu arah. Tanpa aba-aba, para santri langsung bergerak serentak menyerbu panggung dan membubarkan acara tersebut, karena mendapat perlawanan dari pihak aparat keamanan, para santri justru semakin tersulut emosinya dan menghancurkan segala sesuatu yang ada. Dalam sekejap, panggung yang megah itu hancur dan hangus terbakar. Kerusuhan melebar sampai ke tengah kota, fasilitas umum kota juga tak luput dari amukan massa yang terdiri dari gabungan santri dan masyarakat umum yang mendukung tindakan para kyai dan santri. Kota Bangkalan saat itu sangat mencekam dan tiba-tiba saja seperti berubah menjadi medan pertempuran. Berkali-kali terdengar suara tembakan di udara, namun ratusan aparat keamanan seakan tak berdaya menahan emosi massa yang semakin tak terkendali ditambah jumlah massa yang terlalu banyak. Mobil pemadam kebakaran yang hendak memadamkan apipun hangus dibakar, pos polisi hancur lebur, kantor walikota juga tak luput dari sasaran kerusuhan, beruntung tak ada korban tewas pada saat itu, karena sebelumnya kyai Saud memang berpesan kepada santrinya untuk tidak melukai satu orangpun. Kerusuhan berlangsung sampai menjelang pagi hari dan berakhir ketika adzan subuh berkumandang. Peristiwa kerusuhan itu benar-benar membuat nama Kyai Saud langsung melejit baik dimata masyarakat maupun di mata pemerintah.

Kyai Saud memang termasuk seorang ulama yang sangat berani menentang pemerintah. Siapapun yang melecehkan umat muslim pasti akan dihancurkannya. Meski sering kali berbuat anarkis dengan para santrinya, Kyai Saud tak pernah bisa dipenjarakan karena tuduhan telah berbuat kerusuhan atau memprovokasi massa tidak pernah bisa dibuktikan, kyai Saud sangat pandai berkelit dan membela diri. Apalagi beliau juga paham bahwa kota Bangkalan yang bisa dibilang sebagai kota santri pasti akan membela kepentingan agamanya daripada kepentingan pemerintah. Dalam setiap aksinya, Kyai Saud selalu menyamar sebagai masyarakat biasa,demikian pula para santrinya juga disuruh untuk memakai pakaian biasa. Sehingga sulit untuk mengenali siapa yang telah berbuat kerusuhan. Aparat keamanan tentu saja dibuat bingung mana yang santri mana yang masyarakat biasa.

Selain terkenal akan keberaniannya, kyai Saud juga dikenal sebagai seorang ulama yang sangat cerdik dan sangat hati-hati dalam bertindak. Selain perjuangan secara fisik, beliau juga berjuang lewat ceramah dan karya tulis. Hampir setiap minggu, beliau tak pernah absen berkeliling pulau Madura untuk menjadi penceramah dalam acara pengajian akbar yang biasa digelar oleh kyai atau tokoh masyarakat setempat. Buku dan artikel-artikelnya yang berisi kritikan-kritikan pedas terhadap pemerintah juga sudah bertebaran dimana-mana, tak terhitung lagi jumlahnya. Kyai Saud seperti sebuah mesin cetak yang tak pernah berhenti mencetak karya-karya besar.

-------------***------------------


PUTRA MAHKOTA

Muhammad Lintang Kemukus Al Azhar, lahir di kota kecil Bangkalan-Madura. Bertepatan dengan munculnya “Lintang Kemukus” atau bintang berekor , sementara para ilmuwan lebih sering menyebutnya sebagai “komet”. Karena kelahirannya ditandai dengan peristiwa yang sangat langka, kyai Saud yakin bahwa kelak putranya akan menjadi orang yang besar. Apalagi hari kelahirannya tepat pada hari senen, persis seperti kelahiran nabi Muhammad SAW. Karena itu, kyai Saud memberi nama depan putranya “Muhammad’ sebab hari kelahirannya sama dan juga memang sudah merupakan sunah rasul untuk memberi nama depan setiap anak laki-laki dengan nama Muhammad atau Ahmad. Nama ” Lintang Kemukus” diambil karena saat kelahirannya ditandai dengan munculnya komet atau lintang kemukus, sebuah pertanda akan terjadi peristiwa besar yang menggemparkan. Sementara “Al Azhar” berarti yang bersinar terang.

Lintang lahir bak seorang pangeran atau putra mahkota yang memang sudah sangat ditunggu-tunggu kedatangannya. Perlakuan istimewa sudah dirasakannya semenjak Ia baru lahir, kecil, remaja dan beranjak dewasa sampai saat ini, baik oleh orang tuanya maupun oleh orang-orang yang mengenal siapa ayahnya.

Sejak kecil, hal-hal luar biasa memang sudah nampak pada diri Lintang. Di usianya yang masih baru menginjak 3 tahun, Ia sudah bisa mengaji Al quran dan di usia 5 tahun, Lintang kecil sudah hafal 15 Juz Al Quran. Baru setelah usia 7 tahun, Ia akhirnya hafal Al Quran 30 Juz penuh. Pada usia 12 tahun, Lintang sudah hafal kitab-kitab karangan Muhammad Al Gazali, kitab Riyadush Salihin dan kitab Al Hikam yang memang sangat terkenal dikalangan kehidupan pondok pesantren. Kharismanya sudah mulai nampak sejak Ia masih kecil. Sejak itu, banyak para kyai-kyai sepuh yang meramalkan bahwa kelak Lintang akan menjadi seorang ulama yang besar. Bahkan pernah ada yang sampai menyebutkan suatu saat nyawa Lintang akan ditukar oleh 100 nyawa yang memang rela dengan ikhlas mengorbankan nyawanya untuk pemimpin yang diagungkannya. Ramalan itu cukup membuat kyai Saud merasa khawatir. Namun itu hanya sebuah ramalan saja, belum tentu benar karena semuanya yang menentukan tetap Allah SWT. Demikian kyai Saud meyakini.

Sepanjang masa kecil sampai remaja, Lintang tak pernah menyukai bangku sekolah, sering sekali Lintang keluar masuk sekolah. Baik di pondok pesantren asuhan ayahnya sendiri, pondok pesantren orang lain sampai sekolah formal sekalipun tak pernah membuatnya betah untuk belajar , Ia suka sekali tertidur di kelas atau membolos sekolah. Ia benar-benar lebih suka belajar sendiri dari membaca, berhitung dan mempelajari ilmu agama secara otodidak dengan sedikit bantuan sang ayah. Bagi Lintang, sekolah adalah hal yang sangat membosankan dan membuang-buang waktu saja, karena Lintang merasa apa yang diajarkan di sekolah, semuannya sudah ada di otaknya. Semua orang meyakini bahwa Lintang dianugerahi “Ilmu Laduni” oleh Allah SWT. Ilmu agung tiada bandingnya yang hanya diberikan pada orang-orang pilihan saja. Dan memang pada kenyataannya, Lintang adalah anak genius yang serba bisa dan cepat sekali memahami ilmu tentang apapun.

Lintang adalah anak yang cerdas dan sangat berbakti kepada orang tuanya, meski sering membuat marah orang tuanya karena tingkah lakunya yang aneh-aneh, tak pernah sekalipun Ia melawan kepada orang tuanya. Apabila dimarahi, Ia lebih suka pergi dan menghindar. Sejak kecil Lintang sangat tekun sekali belajar dan beribadah, sedikit sekali Ia menggunakan waktu bermain atau bergaul dengan teman-temannya. Ia lebih suka menyendiri di dalam rumahnya yang tenang dan damai. Hal itu membuatnya sedikit memiliki teman dan sulit untuk bersosialisasi.Tapi itu tak membuatnya khawatir karena memang Ia lebih memilih buku-buku untuk dijadikan sebagai temannya.

Buku-buku agama, ilmu pengetahuan dan sastra semua Ia lahap habis. Lintang seorang pengagum berat Buya Hamka, untuk itu Iapun mengoleksi tafsir lengkap Al Azhar dan buku-buku karya Buya Hamka lainnya. Sedikit demi sedikit akhirnya karya-karya Hamka turut mempengaruhi pola pemikiran Lintang. Perlahan Ia menjadi seorang muslim yang moderat namun ajaran garis keras warisan ayahnya juga masih cukup kuat.
Di usianya yang baru menginjak 15 tahun, Lintang sudah memberanikan diri untuk kuliah. Ia berhasil masuk di Universitas Islam Negeri Malang mengambil “Ilmu Tarbiyah”melalui jalur khusus atas inisiatif dan bantuan dari ayahnya yang memang memiliki banyak kolega. Di kampusnya, tentu saja Lintang membuat heboh para dosen pengajarnya juga teman-temannya. Hampir setiap materi yang disajikan dosen, Lintang dapat dengan mudah menjelaskan dengan lebih jelas, detail dan mendalam. Ia sangat jarang masuk kuliah namun setiap kali ujian, Lintang selalu mendapat nilai terbaik diantara teman-temannya.

Baru 2 semester Ia menimba ilmu, Lintang merasa tidak betah karena Ia merasa ilmu yang diajarkan di kampusnya sudah Ia pahami semuanya dan Ia memilih untuk keluar saja. Sejak saat itu Lintang lebih suka mengajar di pondok pesantren milik ayahnya. Lintang kembali hidup selayaknya seorang putra mahkota yang menunggu saat-saat Ia menaiki tahta. Namun dalam hati kecil Lintang, sebenarnya Ia menolak semua perlakuan orang-orang disekitarnya yang memperlakukannya bak seorang pangeran di negeri antah berantah. Seringkali Ia merasa asing dengan dirinya sendiri, Ia merasa muak dan bosan dengan orang-orang di sekitarnya. Hati kecilnya berkata bahwa hidupnya bukan untuk dimuliakan tapi Ia yang seharusnya memuliakan orang lain yang dianggapnya lebih pantas untuk diperlakukan secara mulia. Ia merasa bukan putra mahkota, Ia bukan anak seorang raja, dan Ia bukan hidup dalam sebuah kerajaan. Ia ingin lebih dari itu semua, Ia ingin bebas melakukan apa yang diyakininya. Ia merasa takdirnya bukan di sini.

Hari demi hari, Lintang semakin merasa terasing dan sangat kesepian. Tapi Ia cukup pandai menyembunyikan perasaan itu kepada semuanya. Ia mencoba bersikap sewajarnya saja. Setiap kali ada tamu yang ingin menemui ayahnya, Ia selalu memperhatikan apa maksud tujuannya datang. Ternyata kebanyakan dari mereka bukan untuk mencari ilmu atau meminta pendapat, tapi hanya untuk kepentingan duniawinya sendiri. Memanfaatkan nama besar ayahnya untuk meraih jabatan atau demi kepentingan politiknya. Lintang semakin merasa muak dengan itu semua.

Diam-diam Lintang memendam cita-cita besar yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh orang-orang disekitarnya selama ini. Tanpa sepengetahuan ayahnya, tapi dengan restu dari sang ibu. Lintang berkeinginan masuk di Universitas Brawijaya. Sebenarnya Ia menginginkan masuk di UGM mengambil ilmu politik, namun ternyata takdir menuntunnya ke jalan yang lain. Ia masuk jurusan ilmu hukum.

Dengan berat hati, kyai Saud akhirnya mengijinkan putranya untuk menuntut ilmu di jalur yang berbeda. Ia tak mampu lagi membendung keinginan Lintang. Usia 18 Tahun, Lintang masuk kuliah. Kali ini Ia harus belajar lebih keras karena bukan ilmu agama lagi yang akan Ia pelajari tapi ilmu umum yang jauh lebih luas. Ia harus cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus yang benar-benar berbeda dengan lingkungannya selama ini. Bulan-bulan pertama cukup membuat Ia kelabakan karena selain harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru, juga harus mempelajari istilah-istilah baru yang sangat asing baginya.

Siang malam Ia berusaha keras belajar, untuk menambah pengalaman Ia ikut organisasi-organisasi kampus maupun di luar kampus. Seketika teman-temannya menjadi sangat banyak. Dari sanalah Lintang semakin sering bergaul dan berdiskusi tentang segala sesuatu. Lintang seperti masuk ke dalam dunia yang lain, kehidupan yang lebih merdeka. Ia mulai mengenal organisasi dan belajar berpolitik. Sedikit demi sedikit Ia mulai melahap buku-buku yang selama ini tidak pernah Ia baca, dari buku-bukunya Che Guevara, Karl Marx, Hegel, Tan Malaka, Iqbal sampai Nietzsche. Meski Lintang tetap mengidolakan Sultan Salahuddin, kini Ia mulai punya idola baru yaitu presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Ia suka sekali terhadap figur tokoh yang satu ini, dari wajahnya yang teduh, santun dan hidupnya yang sederhana tersimpan keberanian bak seekor singa di hatinya. Siap untuk mempertahankan martabat bangsa dan agamanya. Gaya kepemimpinannya dan kepeduliannya terhadap rakyatnya mirip sekali dengan sultan Salahuddin dan itu semua benar-benar membuat Lintang merasa takjub.

Perlahan, Lintang sang putra mahkota “Babur ulum” yang dulu dikenal sangat pendiam, seperti bermetamorfosa menjadi pribadi baru yang lebih berapi-api dengan pemikiran yang radikal. Ia bukan lagi seorang yang sekuler tapi sudah sangat bertolak belakang dari itu. Karena memang genius, Lintang dengan cepat memahami pemikiran-pemikiran radikal kaum garis kiri yang tak pernah Ia pikirkan sebelumnya. Ia seperti mengamini itu semua dan siap turut berjuang mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan oleh kaum garis kiri selama ini. Tentu saja itu adalah hal yang sangat bertentangan dengan pemikiran ayahnya.

BERSAMBUNG...................

20.12.10

NOVEL ANAK KATA-KATA



  THE JOURNEY OF  FUCK* N LOVE

STEVEN
                                            By: KOTETZ


------------------------------------------------------------------------------


STEVEN
THE JOURNEY OF FUCK*N LOVE

Oleh: KOTETZ


Cetakan pertama @ Januari 2008
Copy Right @ InsyaAllah kalau sempat
Editor     : Kotetz
Setting   :  Kotetz
Cover     : Kotetz

Tanpa hak cipta dan tak dilindungi undang-undang.
Silahkan memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis ataupun mekanis, termasuk memfotocopy, merekam atau dengan sistem penyimpanan lainnya. Demi pemerataan dan keadilan hak membaca buku.

Penerbit: MOTO DUWITEN PRESS
Jl. Kematian Gg. Kavan 87 Kuto Demit




NOVEL BUNGKUS KACANG
KARYA
SANG PUJANGGA Gadungan
BUAL-BUAL si PEMBIKIN

Saudara-saudara yang terhormat maupun yang tak terhormat,
Dengan penuh rasa bahagia dan tawa yang meledak-ledak, kupersembahkan sebuah kisah klise tentang percintaan dan perjuangan untuk mendapatkannya.
 Mungkin bagi kebanyakan orang kisah ini terlalu mengerikan, memalukan atau menjijikkan. Mengapa? Saya pun sebenarnya juga tidak tahu.
Kawan-kawan yang kubenci dan yang kuhormati,
Kisah ini hanya fiktif belaka, tapi mungkin juga bisa benar-benar ada. Yang jelas tokoh-tokoh dalam kisah ini hanya hasil bualan belaka, tanpa ada rekayasa atau maksud-maksud tertentu.
Gaya bahasa dalam penyampaian kisah ini memang sengaja dibikin sepolos mungkin. Bahasa yang dipakai sebenarnya adalah bahasa sehari-hari yang renyah dan gurih untuk dicerna, meskipun terkesan kasar, jorok atau tidak etis. Terserah bagaimana anda memahaminya, Ini adalah karya, yang bisa berbicara secara berbeda-beda kepada setiap pembacanya.
Ya..........Inilah novel bungkus kacang..........memang dibikin agar terkesan murahan, tapi tetap berangkat dari kejujuran.

Sahabat-sahabat yang mulia dan yang tidak dimuliakan,
Sesuatu yang berarti itu justru lahir dari  hal-hal yang tak terduga ,dari sesuatu yang biasa saja, dan bahkan dari sesuatu yang kotor dan dibenci. Setiap gunung pasti memiliki jurang, semakin tinggi gunung maka semakin dalam pula jurangnya. Semakin tinggi kelebihan seseorang, semakin banyak pula kekurangannya. Lah...trus hubungannya apa?  Entahlah kawan, yang jelas aku juga bingung kemana arah basa-basi ini.


Ya sudah........ selamat membaca  aja deh buook!!












UPSSSST..............................................BELUM MULAI !!











SABAR DONG ......AH..!!









TERUS....











LAGI...........







SEDIKIT LAGI........









NAH.....










TERUS.....
TERUS....






He.....he......he.......!!!!
Gue bikin lu......!

Bego’.......!!!






OK!


begINI CERITANYA !!



Seorang sahabat,

Tampan..........keren............macho.......populer di sekolah........Dan paling dikejar-kejar cewek .
Cukup lama kami dekat, sampai tiba-tiba aku mulai kurang suka pada dirinya. Entah karena apa.?
Mungkin karena terlalu seringnya Dia berganti-ganti cewek.
Tahu sendiri lah........Saya adalah fans berat Kahlil Gibran.
Otomatis........
Saya menjadi pemuja cinta yang sangat menghargai sekali akan kesucian cinta. Dan Saya sangat benci dengan orang-orang yang suka bermain-main dengan cinta.
Nah, sahabat saya yang satu ini, termasuk orang-orang yang suka sekali bermain-main dengan cinta. Banyak sekali cewek-cewek yang sudah menjadi korban cinta palsunya.
Sejak saat itu, pribadinya mulai berubah, Dia tidak percaya akan adanya cinta sejati. Baginya cinta sejati itu hanya omong kosong, Cinta dan kasih sayang sejati itu hanya ada dalam kitab Kamasutra.
Perlahan perubahan sikapnya itu membuatku resah dan tidak nyaman, akhirnya Saya memutuskan untuk menjauh darinya. Kami tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu, bahkan sudah sangat lama sekali kami tidak saling berhubungan. Kira-kira sudah tiga hari lebih lima jam, tiga puluh menit, empat puluh detik.
Sampai suatu hari, tepatnya hari ke empat dimana kami saling tidak menyapa. Akhirnya Dia menghubungiku dan meminta maaf serta berjanji akan menghargai “Cinta”.
Namun Dia masih tetap berganti-ganti cewek dengan alasan atas nama cinta. Demi mencari cinta sejati.
Semua itu, bisa saya tolerir karena Dia sudah berbaik hati mau membagikan salah satu ceweknya kepadaku. Sehingga akhirnya Saya bisa melepaskan diri dari belenggu “Jomblo” alias “Tidak laku” yang sudah sangat lama sekali melekat dalam diriku.
Hari demi hari, aku mulai mengamati gerak-gerik dan tingkah laku sahabatku itu. Aku mulai mempelajari bagaimana cara Dia membikin cewek-cewek bisa tertarik kepadanya.
Semakin hari, kami semakin akrab bahkan lebih dekat daripada sebelumnya. Kami sering sekali curhat dan bertukar pikiran tentang masalah cewek. Rupanya Dia senang sekali bercerita dan berbagi ilmu.
Hampir setiap hari Dia selalu bercerita tentang kisah cintanya.
Menarik juga ....pikirku.
Tanpa sepengetahuannya, aku mulai menulis tentang perjalanan cintanya. Beruntung Dia orang yang sangat terbuka. Dia justru merasa bangga jika ada orang yang mau mendengarkan cerita cintanya itu.

Nah...............inilah catatanku tentang Dia!







PUTUS........!!























Ya...kata itu masih melekat dalam memori Steven, menusuk hati dan merobek jiwanya hingga membuat hari-hari yang pendek, terasa amat panjang dan sangat membosankan baginya.
Puteri adalah gadis pertama yang mengisi hatinya. Entah mahkota apa yang dipakainya, jubah apa yang dikenakannya hingga membuat seorang Steven yang dikenal sebagai idola cewek-cewek di SMA-nya menjadi lebih tertarik dan merelakan hatinya untuk jatuh cinta pada puteri yang sebenarnya adalah gadis yang dijuluki teman-temannya nya sebagai “Play Girl” (Ih............istilah apa sih itu....................gadis main ya?”
Semua teman sekolahnya tahu kalau Steven sebenarnya menjadi incaran para gadis. Namun, bagai benteng yang kokoh berdiri sombong menangkis badai. Steven sepertinya cuek saja dan tak mau ambil pusing dengan semua itu. Yang ada di pikirannya Cuma berangkat sekolah tepat waktu....................pura-pura menghormati guru........................menghafalkan pelajaran-pelajaran kuno.....................dan mengurusi Gank-nya.  (Uh......sok-sok jadi mafia......mau kemana sih, dipanggil ke BP aja kepala udah pada nunduk gitu...............gimana kalau harus menghadapi Al Capone..?)
Sebenarnya, Steven adalah anak yang pendiam, cuek, dan gak terlalu banyak omong............pokoknya cool abis deh..buoook!
 ( Itu adalah rumus jitu agar disenangi cewek-cewek....inget tuh...!)
Namun sayangnya, Ia jatuh ke sarang laba-laba yang buas dan ganas. Jatuh hati pada Puteri yang matre dan suka mempecundangi cowok!
Mereka sempat pacaran selama satu bulan kurang lima hari tepat, lalu karena jenuh dan merasa bosan akhirnya Puteri memutus Steven secara sepihak tanpa alasan yang jelas, hingga membuat Steven stress berat.
Bagai setangkai bunga matahari di malam hari yang buta.................layu.................layum...........dan menunduk remuk. Hati Steven benar-benar hancur..........tapi bukan seperti permainan puzzel yang bisa disambung-sambung lagi. Hati Steven benar-benar terbelah rasanya....!
 (Bullshit.....bo’ong ah..........mana bisa hati kok terbelah..........emangnya hati itu barang pecah belah apa..?)
Tapi

Tak seperti cowok-cowok cengeng pada umumnya ,Yang apabila  diputusin pacarnya atau patah hati..........kontan hidupnya menjadi amburadul....tak bersemangat....dan...tak bergairah. Tapi untuk Steven..............patah hati malah merubah hidupnya menjadi semakin bersemangat, agresif dan terkesan brutal alias................ ...hedonistis....Bohemian banget.............. gila-gilaan bin ugal-ugalan!
Pribadi Steven mendadak berubah tiga ratus enam puluh derajat (Eh...salah.......kan... balik lagi kalau gitu), yang bener seratus delapan puluh derajat.
Pribadi Steven tidak seperti dulu lagi. Mungkin sejak merasa dipermainkan oleh Puteri, Ia mulai sadar bahwa sebenarnya dialah yang harus mempermainkan cewek-cewek.
Hampir semua siswi-siswi di SMA-nya maupun diluar SMA-nya dipacari semua, bahkan sampai kakak kelasnya yang baru lulus tahun lalu turut menjadi target bidikannya.
Pacaran.........................memutus.............pacaran lagi..............memutus. Mendua....cabang tiga....cabang empat....sampai bercabang-cabang cintanya kepada cewek-cewek. Ada yang berjalan hanya dua bulan, satu bulan, dua minggu bahkan ada yang hanya sampai tiga hari setengah saja. Eh...........yang lebih dahsyat lagi ada yang hanya 3 jam aja. Itu karena Steve nyadar kalau cewek yang baru aja dipacarinya ternyata punya penyakit “AYAN”......duh apes banget deh, gimana mau kencan?
Begitulah Steven mempermainkan cewek-cewek, sebagai ajang pelampiasan dendamnya pada makhluk yang katanya sih diciptakan dari tulang rusuk laki-laki ( Nggak percaya......?? Tau nggak, tulang rusuk laki-laki itu jumlahnya kurang satu daripada tulang rusuk milik perempuan). Buktikan aja sendiri...............belah dada setiap laki-laki dan perempuan lalu periksa baik-baik! Dijamin anda akan dinobatkan sebagai Sumanto ke dua.
Steven menjadi play boy sejati  (Ih istilah apa lagi........sih... ini..... ....cowok main sejati ya..?) Selama itu pula kehidupannya benar-benar seperti hidup anak berandalan kota..................hobi bolos ......................ngerokok..............ngeganja...........
Minum-minuman keras.......ikut-ikutan balap liar......pokoknya yang serba mafia deh. Tapi anehnya justru itu yang semakin meningkatkan kharismanya dimata cewek-cewek. Steven dianggap cowok paling keren, gaul and macho (Aneh.........bukan.?.....memang begitu kenyataannya kok! Kebanyakan cewek suka pada cowok yang nggak culun, nggak kuper and nggak banyak aturan, apalagi kalau tuh cowok pinter basket, musik and jadi ketua Genk.........duh tinggal tebar senyum di sana-sini aja........cewek-cewek pasti udah pada ngumpul tuh......! itu rumus kedua).
Disaat memasuki masa keemasannya, tiba-tiba Steven memutuskan untuk berhenti dan berubah. Ia mulai merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Perlahan tapi pasti, Steven mulai jadi anak baik-baik. Nggak lagi mabok-mabokan atau ngeganja............Steven mulai suka menulis puisi dan lagu, membaca buku-buku di Perpustakaan, menyendiri dan tak lagi bertingkah macam-macam di sekolahnya. Tapi, tetep dong.......Cool abis.....! (Nah kalau yang satu ini...........rumus agar disukai cewek-cewek yang emang baik-baik! Rumus ke tiga)
Meskipun Steven telah berubah, temen-temennya masih tetep setia padanya bahkan sebagian justru ada yang mulai berubah. Cewek-cewek juga masih tetap mengidolakannya bahkan semakin mengejar-ngejarnya. Steven memang makhluk yang paling beruntung deh...!
Akhirnya, kisah liar kehidupan Steven-pun berakhir juga. Semua itu berawal dari sebuah pertemuan Steven dengan seorang gadis cantik yang anggun dan polos di acara ulang tahun temannya .  Wajahnya bening bak seorang dewi Rengganis. Tatapan matanya seolah busur panah Dewi Shinta yang dengan seketika melesatkan anak panahnya ke jantung hati Steven, bodinya begitu sempurna dan betisnya bersinar bak Kendedes. Tapi sayang, sang Kendedes sudah dimiliki oleh ken Arok tuh!
Cinta pada pandangan pertama (CP3)......ya......seperti itulah yang dirasakan oleh Steven saat itu. Pandangan matanya seolah terpaku oleh paku sang dewa bumi, tubuhnya seketika tak bisa beranjak, tersihir pesona wajahnya dan tak terpikirkan sama sekali di hatinya untuk merayu atau sekedar berkenalan dengannya
Tiba-tiba seorang Steven yang terkenal ahli dalam menggoda cewek, mendadak menjadi salah tingkah dan kehilangan rasa percaya dirinya. Lidahnya seakan terpotong oleh belati senyum manis gadis itu, hingga tak sepatah katapun terucap dari bibir Steven.
Gadis itu adalah Patricia.
Satiyem yang telah mengenalkannya pada Steve, dan Satiyem itu suka pada Steven, hanya saja tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya pada Steven (Duh..........celaka............bakal jadi cinta segitiga nih.!!)

Setelah perkenalannya dengan Patricia, malam itu juga Steven seperti cacing kepanasan. Bimbang, resah dan tak bisa tidur. Dalam benaknya selalu terbayang wajah Patricia.
Karena tidak bisa tidur, akhirnya Steven membuat sebuah puisi yang kemudian Ia jadikan lagu (Sok romantis lu Stev...!!)
Ternyata memang benar, cinta mampu merubah seseorang mendadak menjadi seorang pujangga yang pandai merangkai kata. Kiranya benar jika kau ingin pandai mengarang puisi atau lagu, salah satu caranya adalah “Jatuh cintalah pada seseorang dengan sebenar-benarnya cinta” (..........he.........he....gue juga pernah ngalamin loh!)
Demikian pula Steven, tiba-tiba saja Ia menjadi pandai bermain dengan kata-kata. Begini puisinya:

MERPATI PUTIH

Ku tak mengerti apa yang tersembunyi
Di balik senyummu
Dan aku tak pahami apa yang kurasakan
Saat kau memandangku
Terjebakku dalam lamunan
Biarkanlah aku nikmati
Tenggelamku dalam tatapanmu

Karena engkau “merpati putihku”
Yang terbang di jiwaku

Telah kuijinkan untukmu
Hinggap di hatiku
Jangan pernah kau pergi
Karena ku cinta kau saat ini

Ku telah mencoba tuk menepis rasa ini
Dan akupun pahami arti getaran dalam hati

Karena engkau “merpati putihku”
Yang terbang di jiwaku
Telah kuijinkan untukmu
Hinggap di hatiku
Jangan pernah kau pergi
Karena ku cinta kau sampai nanti

Saat kau tersenyum mentaripun tenggelam
Getir biaskan rasa amarahmu
Tenggelamku di dalam tidur panjangku
Bangunkan aku dengan desah nafasmu

Karena senyummulah ku mulai mengerti
Arti kasih sayang dan cinta sejati

 By: Pujangga Gadungan

Setelah Ia menulis puisi itu, kemudian Ia menulis sepucuk surat untuk Patricia
Dan...........setelah..........surat selesai............dimasukkan  dalam amplop.
Terakhir............ ditulislah kata
“To: Patricia”
Tak lama setelah itu, Stevenpun berlayar mengarungi alam mimpi melewati samudera khayal dengan menaiki perahu empuknya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut putih bergaris hitam.............alias...........
Tiduuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrrrr....he.....he...he!

ZZZZzzzzzzzZZZZZzzzzzzzzZZZZzzz!!!!!!!!!


Pagi hari yang tak menyenangkan kembali menghampiri, sinar mentari yang menembus ranting-ranting pohon dan membuat embun-embun menjadi seperti kilauan permata memasuki celah-celah jendela kamar..........menyapa ruang gelap kamar yang pengap dengan bau keringat!
Tak lama kemudian terdengar sayup-sayup suara berisik yang semakin lama semakin mendekat dan terdengar semakin bergemuruh bagaikan suara halilintar memekakkan isi kepala. Diiringi langkah kaki yang semakin keras dan diakhiri dengan dentuman keras suara ketukan pintu yang membahana.
“Steve....ayo cepat bangun..!!! sudah pukul tujuh.........ayo jangan malas......cepat, nanti terlambat lagi kau ke sekolah”
Ah........rupanya suara sang bunda yang selalu dijadikan alarm otomatis setiap hari oleh Steven
Dengan mata sayup-sayup.....rambut berantakan.....pikiran setengah nyadar.....dan sedikit garis putih di pipinya, hasil karya tadi malam (Ih...ngileeer!!!).
Kriiieeeek.........suara jendela kamar terbuka.
Steven membuka jendela kamarnya, lalu segera hawa dingin masuk memerangi hawa pengap karena bau keringat yang memenuhi ruang kamar.
“Waaah segaaar..........eh  tapi kok agak panas ya..?” Steve menoleh ke arah jam dinding yang saat itu menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit.
“Hah,,,,,,brengsek..............aduh gawat..........terlambat lagi nih!”
Seperti tikus yang masuk perangkap. Steve berlari ke kamar mandi....cuci muka...gosok gigi............sedikit membasahi rambut (gak mandi buook!!), lalu langsung berlari ke kamar dengan cepat meraih pakaian yang sudah tergantung di tempat setrika.
Setelah selesai menyisir rambut, memakai pelembab, parfum dan sedikit goresan lips gloss pada bibir, kemudian Steve berlari kencang menuruni tangga, mencium bundanya dan meraih sepotong roti.
“Bunda,,,,,,,,,,berangkat dulu..!” (Steve berlari kencang)
Tak lama beberapa menit kemudian adik perempuan Steve yang baru kelas dua SMP menanyakan sesuatu kepada bundanya.
“Bundaa.......bajuku mana sih! Kok Cuma bajunya kak Steve sih yang ada?”
“Loh tadi bunda taruh di situ kok!”
“Lalu tasku kemana ya....?” Tanya adik Steve kembali dengan bingung.

--------------


Sampai di gerbang sekolah.....Steven segera masuk. Beruntung sekali rupanya dia, kali ini gerbang belum ditutup.
Dengan badan penuh keringat dan rambut yang acak-acakan, Steven langsung masuk kelas...kebetulan guru belum datang!
Baru selangkah masuk pintu kelas...tiba-tiba suasana kelas yang tadinya ramai, tiba-tiba menjadi sepi. Semua mata memandang ke arah Steven. Steven juga bingung, tidak biasanya mereka bersikap begitu, karena sudah biasa kalau Steven selalu masuk kelas dengan badan penuh keringat, rambut acak-acakan dan nafas yang terputus-putus.
Tak lama kemudian..........suasana kelas kembali ramai dipenuhi dengan gelak tawa teman-teman Steven. Steven semakin bingung gak karuan seperti monyet “konak” yang gak nemu pasangan untuk diajak “nge- dance” atau seperti “wong kuto” yang baru masuk acara kondangan.
“Ha...ha...ha...ha...........baju siapa tuh yang kamu pakai Steve, emangnya kamu masih pengen jadi anak SMP...ya! Sahut salah satu teman Steven.
Steven kaget...........kemudian Ia melihat bajunya.....dan...........
“Brengsek..............tahi kucing.........kencing anjing sialan...............salah pakai baju adik nih.....................waduh apes bener sih gue hari ini”
Beberapa saat kemudian.........guru datang dan pelajaran dimulai.
“Ayo sekarang kalian buka PR minggu kemarin!” Tanya sang guru

%$>>>>$#@#***&&&?”””...................!!!!!

Kembali....Steven terkejut, rupanya Ia salah membawa tas milik adiknya. (Ha...ha...ha......ha....apes lu!)
“Brengsek....bajingan tengik........anjing..............,
sial banget sih gue hari ini” Bisik Steven dalam hati
........................................................................................

Rupanya hari itu bener-bener hari sial bagi Steven, salah pakai baju, salah bawa tas, disuruh lari keliling lapangan oleh guru.
Rupanya ada kata kiasan yang pas banget buat Steven, udah jatuh ketimpa tangga pula, masih kejatuhan cat lagi........sialnya lagi............ juga kejatuhan tukang catnya sekalian.............duh kacian deh lu Steve!
“Waah sialan.............ini semua pasti gara-gara aku memikirkan Patricia semalaman. Lagian...............ngapain juga aku mikirin dia terus sih,dia tuh siapa........dan gue ini siapanya dia..? padahal sebelumnya nggak pernah aku merasakan perasaan yang seperti ini........bener-bener sudah gila gue!” Bisik Steven dalam hatinya.

Teeet........teeet........teeet....!!! (waktu istirahat)
Seperti biasa, Steven dan “Gank”nya langsung pergi ke koperasi sekolah.
(“Koperasi sekolah......? anak gaul kok ke koperasi sekolah, apa nggak lebih keren ke kantin aja..?”)
“Tunggu dulu men............Steven ke koperasi sekolah karena disana ada sesuatu yang sangat  penting baginya,......he.....he...he.......kita liat aja!”

(Di koperasi sekolah yang ramai)

Dalam situasi ramai saat itu, tiba-tiba pandangan Steven tertuju pada seorang gadis cantik yang sepertinya Ia merasa pernah melihatnya.
Steven hanya mampu memcuri-curi pandang saja.
Begitu Patricia tak melihatnya..................mata Steven seperti tak henti-hentinya menelanjangi Patricia. Matanya melotot seperti singa yang kelaparan dan tiba-tiba melihat seekor mangsa. Atau lebih mirip burung elang yang tiba-tiba melihat seekor anak ayam di tengah lapangan yang luas. Ha...ha....persis taman safari. Steven jadi singanya........Lu jadi monyetnya.!
Kembali............pandangan Steven hanya ke satu arah saja. Namun, tiba-tiba Patricia menoleh karena merasa ada yang memelototinya sedari tadi. (sempat juga Dia kepe-dean and salah tingkah).
Saat Patricia menoleh ke arah Steven..................mendadak Steven membuang mukanya. Beruntung tak ada tempat sampah di sampingnya, jadi Steven hanya bisa membuang mukanya ke bawah.........pura-pura ada sesuatu yang jatuh.
Tiba-tiba,
“PLAAAK......!”
Sebuah tamparan melesat ke pipi kanan Steven
“PLAAAK...PLOK.....!”
Tamparan kedua mendarat ke pipi kiri Steven
“BUK...”
Tendangan maut mengarah ke “Tiiit-Nya” steven
“Sialan Lu.......mau ngintip aja pake’ pura-pura menjatuhkan uang” ucap seorang cewek yang tiba-tiba berdiri di depan Steven.
Steven hanya diam.........tak berkata apa-apa. Wajahnya tampak bodoh, hidungnya memerah...memanjang dan telinganya lebar ya......Steven adalah binatang yang sangat besar.
“Sialan............apes banget sih gua hari ini” (Bisik Steven dalam hati)
Seolah tak menghiraukan cewek yang barusan telah menamparnya itu, kembali tatapan Steven mengarah ke Patricia. Tampak Patricia tersenyum dengan sedikit tertawa persis seperti orang mau be’ol alias BAB.
Melihat ekspresi Patricia, Steven pun bangkit dari tempat duduknya bermaksud ingin menghampiri Patricia. Sudah bulat benar tekadnya kali ini, Ia harus bisa ngobrol dekat dengan Patricia.
Tapi...............apa daya, Patricia keburu pergi dengan teman-temannya.
(Kacian deh lu Steve...........mangsa nggak dapet, eh tamparan lu lahap abis)

------------***-------------

Selang waktu beberapa minggu kemudian, Steven mendengar kabar dari temannya bahwa Patricia baru saja putus dengan si Tejo.
Ibarat akan mengadakan perjalanan jauh, kini Steven bisa dengan cepat dan mudah untuk sampai..................karena jalan bebas hambatan telah terpampang di depan mata........dan hanya tinggal melangkah beberapa langkah saja. (Teorinya sih.....begitu......!)
Tapi
Ternyata Steven tak setangguh seperti waktu dulu. Ia tak berani untuk langsung mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya terhadap Patricia. Ia lebih memilih untuk menghubungi teman-teman dekat Patricia sebagai tameng dari belenggu keragu-raguannya. Hampir setiap pulang sekolah, Steven selalu menanyakan Patricia kepada teman-temannya.
(Inget tuh salah satu metode “comblang”. Sangat pas buat orang-orang yang takut untuk mendekati target cintanya. Rumus ke-empat!)

“Bagaimana.......udah dapet nomor hp-nya belum?”
“Eit.......jangan lupa imbalannya.......ok!”
“Beres lah itu...”
Barter rahasiapun terjadi antara Steven dengan Teman-teman Patricia. Seperti mafia aja....!
Steven emang beruntung banget. Udah tampan, keren, pinter, gaul, cool. Juga berduit (Duit tuh juga penting banget bagi cewek)

-----------***--------

Meskipun sudah berhasil mendapatkan nomor hp si Patricia, namun Steven masih ragu dan tak berani menghubungi Patricia. Entahlah................mengapa kekuatan cinta sejati bisa merubah seseorang yang awalnya pemberani tiba-tiba menjadi seperti seorang anak kecil yang malu-malu kucing alias malu-malu tapi sebenarnya nafsu....he2!  Untung nggak malu-malu tikus...tuh, kan jadinya malu-malu tapi rakus seperti para koruptor.

Kembali ke Steven
Ya.......Steven masih terus berjuang melalui teman dekat Patricia. Hampir setiap malam justru Ia selalu nelpon teman Patricia buat curhat sambil dikit-dikit mau “ngorek” tentang seluk beluk Patricia. (kayak Intel aja lu Steve)
Maklumlah, sebelum nembak kan harus tau dulu kelemahan sang sasaran...? (Itu tips buat nembak...seseorang...inget...! Rumus ke-lima)
Rupanya kali ini Steven benar-benar ibarat seorang panglima perang yang hendak menaklukkan lawan lewat jasa sang mata-mata. (pengecut...atau cerdik ya...? batasnya tipis banget lo..!”
----**------
Hari demi hari...malam terasa semakin sepi dan menyiksa bagi Steven. Hampir setiap malam Ia selalu menderita penyakit susah tidur. Bukan karena minum kopi terlalu banyak, atau terlalu memikirkan soal-soal ujian di sekolah, tetapi hanya dikarenakan sebuah jerawat di mukanya yang tak henti-hentinya terus tumbuh dan semakin banyak.
“Ah ini pasti gara-gara aku terlalu mikirin si Patricia nih...!”
Tak terasa, lembar demi lembar dari buku pelajaran Steven telah penuh dengan puisi-puisi cengengnya, syair-syair lagunya, sampai coretan-coretan liar tangannya sebagai ungkapan rasa resah dan gundahnya saat itu.
Patricia..............
Patricia........
Patricia.............
Hari demi hari nama itu semakin menghantui pikiran Steven.
Akhirnya Stevenpun sadar, Ia mulai merasa bahwa cinta sejati itu benar-benar ada, dan rasanya benar-benar.....................mmmmm..................wah...............uah..............wow...........pokoknya tak bisa diungkapkan dengan apapun deh. Bohong kalau perasaan cinta itu bisa diungkapain lewat kata-kata, lagu atau lukisan. Perasaan cinta itu begitu absurd (waduh...istilah apa lagi tuh.........sok ilmiah deh lu..!) merasuk dalam jiwa yang paling dalam, kalo katanya teori psikologi Sigmund Freud, cinta itu bisa termasuk “perasaan sadar bawah” yang hanya bisa menembus ke wilayah sadar atas, hanya jika tubuh mengalami kondisi setengah sadar seperti sedang tidur, mabok atau ngelamun. Oleh karena itu, orang yang lagi jatuh cinta biasanya hidupnya menjadi lebih bergairah. Penuh dengan mimpi-mimpi dan khayalan-khayalan. (ah....jadi sok intelek nih.......!)
Jadi
Cinta itu......
Bisa menjadi air di padang tandus
Bisa jadi duri
Bisa membikin kita seperti terbang melayang
Bisa membikin kita seperti tertusuk belati
Yang pasti
Cinta selalu berkait erat dengan ketulusan hati, karena cinta yang tidak berasal dari hati yang paling dalam, bisa-bisa hanya NAFSU yang tersembunyi saja.
Lalu......apa sih cinta itu?
Jangan terus bertanya.....kita kan terus mencarinya...! (Sori.......nyomot dari syair lagu temen nih)
         
---------------***--------------


BAB II
PERJUANGAN


2.1 Tahap Pelaksanaan Metode Cinta
Karena tak kuasa menahan gejolak jiwanya, akhirnya Steven memberanikan diri untuk menghubungi Patricia.
Karena dasar Steven orang super hemat alias pelit. Diam-diam Steven mengambil Hp adiknya.
Dengan penuh rasa cemas dan grogi, jemari yang gemetaran pun menekan tombol angka-demi angka.
Tuuuut......................tuuuuuut..............tuuuuuuuuut......!
“Hari gini nggak pakek nada sambung pribadi.............? ketinggalan banget sih!” (Bisik Steven dalam hati)
Tiba-tiba
Klek..........
“Halo...” Suara Patricia lembut mengalun
“Halo..halo.....ssssmmmmsssori ..........benar ini Patricia?” Steven menjawab dengan gugup.
“Ya......ini siapa ya..?” Kembali suara Patricia lembut mengalun bak selendang sutera yang tertiup angin.
“Mmm.....nnnn...anu....aku....Steven, aku tau nomormu dari temanmu”
“Terus......”
Diam sejenak
“Terus....?........terus apanya....? (Bisik Steven dalam hati)
“Terus......ada apa kamu nelpon?, kok tumben sih tiba-tiba nelpon aku. Bukannya malam minggu ini seharusnya kamu udah kencan dengan pacar-pacar barumu Steve...?”
“Busyet.......kok dia tau ya belangku...?” (bisik Steve kembali dalam hatinya)
“ Oh....nggak....nggak......aku udah lama jomblo kok! (Sambil mengernyitkan dahi) , karena nggak ada yang bisa aku ajak ngobrol, ya...iseng-iseng aku nelpon kamu”
“Oya...? Bener nih....?” Kembali suara Patricia lembut mengalun bak selendang sutera yang tertiup angin
“Iya........bener. Abisnya  aku sumpek nih, sendirian di rumah, temen-temen lagi pada nge-date semua”
“Loh.... kamu kok nggak ikutan ? Kembali suara Patricia lembut mengalun bak selendang sutera yang tertiup angin
“Ah malas, aku sudah bosan. Sekarang aku lebih senang ngobrol sama kamu”
“Alah....gombal..!” Kembali suara Patricia lembut mengalun bak selendang sutera yang tertiup angin
“Nggak.......... sumpah deh...!”
“Iya...iya aku percaya, nggak perlu pakek sumpah segala lah...!” Kembali suara Patricia lembut mengalun bak selendang sutera yang tertiup angin (Kok dari tadi diulang-ulang terus ya..?)
“Oh iya....katanya.......................&^%%#@##%)_ ........%$#%&)_#%$@@@>>>>>>>>__>>>>*&^%###%$%^%^^........BLA..bla...bla....bla!
Lama sekali mereka ngobrol............tak terasa sudah satu jam lebih.
Tiba-tiba Steven berbisik dalam hatinya
“Waduh......udah masuk perangkap nih, gue tembak sekarang apa nggak ya?............ah...nggak usah dulu lah...momentnya belum tepat, masa baru aja akrab udah mau nembak...norak ah. Gua kan Steven......penikmat PDKT...he...he..!”(Iget .....ini rumus ke-enam)

2.2 Tahap Pendekatan
(Kok........seperti mau nyusun makalah saja?............dasar penulis...kacangan!)

Malam minggu itu adalah malam yang paling berkesan bagi Steven. Akhirnya Ia bisa kenal dekat dengan Patricia. Sungguh cita-cita yang sudah lama ingin dicapai oleh Steven. Ngobrol dengan cewek pujaannya.
Malam itu benar-benar malam yang sangat berkesan, tetapi malam itu juga merupakan malam yang penuh dengan penderitaan bagi Steven.
Ia benar-benar tak bisa tidur karena selalu menyesalkan............mengapa tak terus terang saja pada saat itu.
“Aduh bodoh.....bodoh, kenapa gue nggak berani langsung nembak dia ya....?”
Bodoh........
Bodoh............
Bodoh............
Beribu rasa sesal terus melingkupi pikiran Steven

------------------***----------

Sejak saat itu, hampir setiap malam Steven selalu rutin nelpon Patricia (Pakek Hp adiknya tentu saja...) Mulai dari masalah pelajaran, teman sekolah sampai pembantu pun menjadi bahan omongan.
Steven dan Patricia pun akhirnya semakin dekat saja. Pulang sekolah selalu berdua. Teman-teman Steven tak lagi jadi prioritas utama, dihidupnya kini hanya ada Patricia......Patricia......dan Patricia. (Mabok cinta tuh namanya............Steve..!)
Seolah tak mau lengah meskipun mangsa sudah dalam genggaman tangan, Steven mulai merencanakan sejurus dua jurus kata-kata puisi maupun lagu yang memang khusus untuk Patricia. (Seni untuk cinta nih...?)
Sepulang dari sekolah, mereka berdua duduk santai di depan sekolah, menunggu mobil  yang selalu setia menjemput Patricia.
Lama mereka ngobrol, tak peduli disamping kanan kirinya puluhan pasang mata melotot iri kepada mereka berdua yang terlihat begitu mesra.
Sampai pada akhirnya situasi semakin sepi
--------------
Di tengah obrolan awan alias “obrolan ngelantur” itu, Steven merasa semakin resah dan tak sabar ingin langsung menyatakan perasaan cintanya kepada Patricia.
“Ah...mending sekarang aja gue ngomong sama dia, momentnya pas banget nih..!” Bisik Steven dalam hati.
“Eh...Patricia, boleh nggak aku ngomong sesuatu yang serius sama kamu. Serius banget pokoknya!” Ucap Steven dengan tatapan mata penuh harap.
“Serius..?” Saut Patricia, kurang begitu mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Steven.
Tiba-tiba mobil Patricia datang
“Ok........aku pulang dulu ya Steve.....!Makasih udah mau nemenin aku. Sampai besok ya.....daaa!
“Yaaa...........gagal lagi....deh. Padahal kurang sedikit lagi gue udah mau nembak dia. Nasib......nasib...!”
Makanya kalau mau menyatakan cinta pada seseorang, nyatakan saja secepatnya. Soalnya kesempatan itu bagaikan sebuah anak panah sang dewa cinta! Sekali ditarik harus segera dilepaskan. Kalau tidak, maka akan meleset dari sasaran. (rumus ke-tujuh)
----------------***----------------
Malam harinya, dengan perasaan penuh percaya diri, Steven memberanikan diri untuk menyatakan perasaan cintanya kepada Patricia (Lewat telpon tentunya..................lo tau sendiri kan, Steven tuh pengecut and gak jentel banget deh....!)
Langkah kaki terseret lambat, namun perasaan hati mulai resah dan detak jantung berguncang keras. Pikiran kosong....hampa..........hanya ada sederet angka-angka dan sebuah nama Patricia.
Tiiit.....tuut......tiiiit.......uut......tuut..............tuut

Nomor ditekan
Lama menunggu
“Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan....silahkan .................”
“Aduh sialan..........pake nggak aktif segala” Bisik Steven dengan jengkel.
Berkali-kali coba menghubungi Hp Patricia, tetapi tetap saja tidak aktif.
Pukul 9 malam...........
Pukul 10 malam........
Pukul 11 malam.
“ Ah coba gua telpon lagi sekarang.................masa sih belum aktif juga”
Tiit.........tuuut.....tiit.......tuut............
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif sil..........”
“Aduh sialan...............sepertinya malam ini gagal lagi nih. Ah...besok aja saat pulang sekolah gue ngomong langsung sama dia, sekarang gue mau nyiapin kata-kata yang pas!” (Gitu dong....ngomong langsung, cowok banget gitu.....lo..!)
--------------****------------
Malam itu juga, Steven mempersiapkan sejuta kata-kata pamungkas untuk memanah pujaan hatinya.
Seperti seorang pujangga ulung, penuh keyakinan menggoreskan kata-kata emas hingga menjadi sebuah rumus tetap untuk memecahkan soal tersulit bagi Steve.
Soal cinta sejati.
Kata demi kata tersusun rapi
Dan
........................................................
Kukuruyuuuuuk.........kokok petok......kokok petok, cuwit...cuwit.....cuwit...cuwit..............
Pagi yang cerah tiba-tiba sudah menyapa
Menawarkan sejuta tantangan baru bagi setiap manusia, terutama Steven.
Ya..................sekolah lagi.....................sekolah lagi........belajar............ujian...........menghadapi guru.........dan yang lebih penting lagi.................DOOR...!
Nembak Patricia.
Bel sekolah sudah berbunyi
Teet......teeet...........teeet........teeeet....
Masuk kelas
Pelajaran demi pelajaran, Ujian demi ujian Ia lalui dengan begitu berat. Steven sama sekali tak mampu berkonsentrasi.
Teeeeeet....................
Istirahat
Steven tetap duduk di kelas, termenung, ngelamun.
“Eh....kenapa tuh Steven............................sakit apa kesurupan ya....” Bisik teman-teman Steven.
Hari itu, Steven benar-benar aneh. Sampai-sampai semua teman sekelasnya merasa takut dan tak berani menyapa atau mengajak bicara.
Dan

Teeeeeeeeet..................TeeeeeeeT...................Teeeeeeet................Teeeeeeeeeeeet...............!!!!!!!!!!

Tak lama kemudian, suara gaduh menggema di segala penjuru sekolah, semua siswa berhamburan keluar kelas seperti hama yang disemprot pestisida..............atau seperti anak-anak TK yang baru pulang. Ngacir............melesat secepat kilat.....bahagia nampak jelas di raut wajah mereka.
Yes.........bebas............pulang ....!
Namun seperti di komik-komik, novel-novel terkenal, atau film-film romantis pada umumnya.
Steven terdiam.................
Duduk resah di kelasnya yang sudah lama kosong
Bagai sang pangeran yang menantikan kehadiran sang putri dari balik jendela istananya yang hampa.
Sepi
Sendiri.........
Perasaan Steven sudah mulai tidak nyaman, bulu kuduknya sedikit berdiri. Tiba-tiba Steven ingat bahwa di kelasnya itu pernah ada penampakan hantu sundelbolong.........(hiiii......sereeem).
 Tiba-tiba pintu kelas tertutup
 .............BRAAK.......!!!.
Steven terkejut, ruangan menjadi gelap dan angin dari celah-celah jendela menyapa lembut. (Hiiiiiii kok malah  jadi cerita misteri ya..?)
Steven tetap terdiam, mencoba mengatasi rasa takutnya dengan sedikit bernyanyi.
Tiba-tiba, di depan kelas yang sedikit gelap itu.................. berdiri sosok wanita cantik berbaju putih, rambutnya acak-acakan terjuntai kebawah lantai, matanya tajam memelototi Steven.
Steven terkejut, hendak melangkahkan kaki tetapi seolah ada seribu karung beras membebani kakinya.
Wanita itu tersenyum....dan............kemudian membalikkan badannya................................Alangkah terkejutnya Steven melihat punggung wanita itu..... bolong!
“TTTTttoooooolloooooong.......toloong...” Steven berteriak dengan keras.
Tiba-tiba
.............................
.................................
Ruangan kelas sepi
............................
Kosong
................pintu masih terbuka,........kriieek...kriieek....suara  jendela berulang kali tertiup angin.
“Aduh...............Waduh..........(dengan nafas yang terengah-engah) .......sialan cuma mimpi...........waduh untung aja.....................Sialan gue ketiduran nih..”
Tanpa berpikir lagi, Steven memutuskan untuk keluar kelas dan menunggu Patricia di depan kelasnya saja. .....nggak seperti Steven, Patricia rajin sekali ikut pelajaran tambahan atau remidi.
Dengan sabar Steven menunggu Patricia
Jresss...korek dinyalakan..............wusszzz...asap mengepul dari mulut Steven (Loh.......kok...? Kok ngerokok sih, ini kan settingnya di sekolah?, masa sih boleh ngerokok?.....................oh iya.........sori............maksudku mengunyah permen karet....................loh  kan mirip LUPUS?....................oh iya baca buku aja deh biar keren.
Ya.......
Steven dengan sabar menunggu Patricia di depan kelasnya sambil membaca buku. (Bukunya Fredy.S)
------------***---------
Tak begitu lama, akhirnya Patricia keluar juga.
“Eh Steve......kok belum pulang? Lagi nunggu siapa?”  Sapa Patricia lembut.
“Oh nggak..........nggak lagi nunggu siapa-siapa kok, Cuma lagi pengen sendiri aja” Saut Steven penuh basa-basi.
“Ya sudah kalau gitu, aku pulang duluan ya sama temen-temen, kamu kan lagi pengen sendiri!”
(“Aduh bodoh banget sih..............kenapa gua nggak berani bilang kalau dari tadi itu gua nungguin kamu Patricia”.) Bisik Steve dalam hati
Belum jauh Patricia melangkah dengan teman-temannya, tiba-tiba Steven memberanikan diri untuk memanggil Patricia.
“Hey.........Bitch!” (Loh...kok Bitch sih........nggak sopan....anjing. Ayo lekas diganti............Fucker!!!)
Ok...............ok.............sori......................

Kita ulangi lagi

“Hey Patricia...............bisa ngomong sebentar?”
“Apa...?” Saut Patricia
“Bisa kita ngomong berdua?” Saut Steve mantap.
“Ya.....boleh!”
Steven langsung menghampiri Patricia, sementara teman-teman Patricia tahu diri........... alias menyingkir....
“Kita ngomong di bawah pohon itu aja yuk..”
“Emangnya mau ngomong apa Steve?.......Penting ya...?” Tanya Patricia sedikit heran.
“Santai aja lah........Cuma sebentar kok...!”
Tak lama kemudian mereka berdua duduk di bawah pohon (Padahal tuh pohon........ angker loh...hiiiiii)

-----****-----------

“Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih Steve...?”
“Tiga kata...................ya............Cuma tiga kata saja” Jawab Steve sambil memandang tajam Patricia.
Angin sepoi-sepoi mengurai rambut Patricia, sementara daun-daunan yang telah menguning perlahan jatuh ke tanah. Benar-benar suasana yang romantis.
Sementara Steven sedikit gusar, jantungnya berdetak kencang, keringat dingin mulai menetes........dan tangannya tak henti-hentinya memegangi “Anu”nya yang mulai konak. Ternyata Steven tak tahan melihat rok Patricia yang sejak tadi agak terbuka. (Ih....dasar lu Steve...cowok gatel....mata keranjang....kurang ajar...)
ROMANTIS......buook..............(Roknya Makin Tinggi Makin Asyik) 
Cukup
................................
“Mmm.......anu Patricia........sebenarnya aku Cuma mau bilang.....kalau...........”
“Apa sih steve ?...............langsung aja deh”
“Tapi kamu harus janji nggak akan marah atau tersinggung.......!”
“Ok...ok......janji...........cepet kamu bilang”
“Mmmm............KAMU SEKSI SEKALI.........”
“APA...?????!!!”
TAR........PLAS..........PLAK........PLOK........!!!!!
Sebuah tato merah lima jari langsung menempel di kedua pipi Steven. Patricia langsung lari meninggalkan Steven.
“Eh.........Patricia.......tunggu....tunggu...........bukan begitu maksudku!.......aduh kenapa gua bisa ngomong kayak gitu ya? Sialan.....benar-benar diluar rencanaku..............waduh ini pasti gara-gara penunggu pohon ini lagi sewot sama gua nih.................hiiiiii.........mendingan gua cepet cabut aja deh dari sini.
(He...he......padahal bukan karena  penunggu pohon itu yang lagi sewot, tapi karena penulis cerita ini aja yang lagi sewot sama lu Steve..............he.....he.........gue bikin lu...! rasain mata keranjang...!!! Lu bener-bener makhluk paling apes yang pernah diciptain Tuhan)
..........................
Ok...!! Sampai dimana tadi ceritanya?
Oh iya..........!
Setelah kejadian itu, keesokan harinya sepulang dari sekolah, Steven mencari Patricia. Rupanya Ia ingin sekali minta maaf kepadanya atas perbuatannya kemarin.
(“Ha.............kali ini gua sudah menyusun rencana yang matang dan tak mungkin meleset lagi. Sekarang tinggal nunggu Patricia aja.”) Bisik Steven dalam hati.
Sebentar Steven berjalan, kedua matanya langsung tertuju pada satu titik pusat.
...........................................
(“Loh........kok...............?” ) Bisik Steve dalam hati yang remuk.
Ha......ha..........ha..........ternyata Patricia pulang dijemput oleh laki-laki lain memakai mobil sedan yang keren and super sporty....pokoknya keren abis deh..!
“Aduh sialan ...bajingan tengik.....tahi  ayam.......anjing.......kucing.......dll” Umpat Steven spontan.
“TUHAAN........dimana rasa belas kasihmu? Gua tahu Engkau  pasti marah kepadaku karena tidak pernah mau beribadah kepadaMu. Tapi........beri aku sedikit kesempatan dong............gini....gini.........aku kan juga Adam kecil yang mengharapkan Hawa di sampingku!...............Ya TUHAAN......dengarkanlah aku.......please.deh..!!......kali ini aja dengerin doaku”
(Loh ........situ yang lagi apes..........kok malah menyalahkan Tuhan sih....?..Dosa tau. Padahal dalam cerita ini kan Gue yang bikin Lu jadi apes terus.............gimana sih lu Steve................bego’ kok diembat sendiri............bagi-bagi dong sama pembaca)
Seketika itu hati Steven hancur........eh bosan ah hancur..................remuk..........ya.............remuk menjadi debu, duh sakit kali ya...??
Lagi-lagi Steven pulang sendiri dengan perasaan yang hampa..............kecewa......benci.........sedih.....dan marah bercampur aduk menjadi satu, hingga menciptakan hidangan terlezat.........menu spesial dari yang namanya cinta............yaitu...............PUPUS!!


Ah.....udah ah.........kasian Steven sedih melulu. Sekarang saatnya sang pangeran merasakan keindahan cinta. Habis gelap terbitlah terang...........habis berakit-rakit ke hulu, saatnya berenang ke tepian.............setelah lelah menanam, saatnya kini memanen.
Tunggu tanggal mainnya................segera!!

BAB III
HASIL PERJUANGAN

3.1 Tahap Kebahagiaan
Pulang ke rumah..........................
Sampai di rumah, Steven benar-benar seperti orang linglung. Masuk kamar, menyalakan tape keras-keras.....................Badan terbaring di tempat tidur, sementara mata menatap kosong ke atas. Pikiran melayang pada peristiwa yang barusan dilihatnya........ya.................Patricia.........................ternyata sudah ada yang memiliki lagi.
Sendiri lagi
Dalam ruang kosong yang sepi
Kembali Steve tertidur
Cepat sekali......hari sudah sore
 Tiba-tiba terdengar suara berikut ini................
KRiiiiiiiiiiiiNG..................KRiiiiiiiiiiiiiiNG..................!!
Ayo tebak, suara apakah itu?
a. Suara Kentut      b. Suara Halilintar
c. suara Bel rumah  d. Suara pembaharuan
jawabannya..................
Tidak ada yang betul..................
Yang betul...ya.............suara telpon rumah!
“Steeve.............ada telpon nih.......!” Tiba-tiba suara bunda Steven memecah lamunan.
(“Aduh telpon dari siapa lagi sih?......nggak tau hati lagi ancur gini...!”)Bisik Steven dalam hati.
“dari siapa....bunda...?”
“Dari temenmu nih.................cewek!!!”
(“Aduh.................mungkin mantan cewekku nih. ..................ah............benar-benar disaat yang tak tepat”)
“Bilang.............aku nggak ada.............bunda..!”
“Loh...........emangnya kenapa? Kasian dong Steve........udah capek-capek nelpon?”
“Dari siapa sih........bunda..?”
“Patricia..............!”
.................DUAR........DER..............DOOR...!
“Oh..my God...............oh...men.........Shiit...........Fuck.........Bitch...!!!”
“Yaa..........sebentar bunda..........!!”
Seketika itu Steven berlari secepat kilat, seperti baru saja dapat togel empat angka.
Hiiiaaaaaat..........Slam Dunk...!!!
Gagang telpon sudah direbut Steven dari tangan bundanya, sementara bundanya hanya diam keheranan.Tersenyum lalu menggelengkan kepala.
“Hallo.............” Suara Steve mantap, meskipun nafasnya terputus-putus.
“Steve............sori ya....!” Suara Patricia pelan.....lembut......dan sedikit manja.
“Ya..............sori untuk apa?” Jawab Steve dengan sok berwibawa. Padahal hatinya begitu riang dan jantungnya berdetak kencang”
“Maafin aku ya.............soalnya aku sudah bersikap terlalu kasar sama kamu, tadi waktu di sekolah.........”
“Oh..............masalah itu toh......(“Yes....yes...ternyata dia minta maaf duluan sama gua”).....................santai aja lah.........aku nggak marah kok. Lagian..............yang salah kan justru aku? Seharusnya aku yang harus minta maaf sama kamu karena udah kurang ajar sama kamu...tapi sungguh gua nggak ada maksud, gua juga nggak ngerti kenapa gua bisa ngomong kayak gitu?”
“ya udah kita saling maaf-maafan ya............?”
(“yes........yes.................akhirnya kembali ada peluang...!”) Bisik Steven dalam hati.
Akhirnya....hati yang semula remuk....hancur......kini kembali segar dan lebih bersemangat lagi.
(“Waduh.............sekarang apa nggak...ya...?....................ah mendingan gua nembak sekarang aja deh!) Bisik Steven dalam hati.
“Patricia..............aku mau mau ng...ng................!”
Belum selesai Steve bicara, tiba-tiba patricia memotong.
Cut..................
“eh Steve..........nanti malam kamu ada acara nggak?”
“Mmmmm.....nggak tuh....................emangnya kenapa?”
“Bener...........nggak ada acara?” Ucap Patricia kali ini dengan suara gemas. (Seperti apa suara gemas.....ya.....???)
“Nggak..............bener.............. nggak ada acara kok”
“Gini Steve.....................ntar malem kan aku diundang temenku ke acara ulang tahun di cafenya. Maksudku sih......aku mau ngajak kamu kesana. Tapi kamu mau apa nggak?”
DUS...............DUS...........Dus........!!!...........Tuuuut................Tuuut.......Tuut...........dar......der.........dor!!!
Bagai mendapatkan durian runtuh, hati steve langsung meledak-ledak..!
“Wow...............mau sekali Patricia. Bagaimana gua bisa nolak kalau kamu yang ngajak!”(“He....he.......he.........bener-bener Tuhan berpihak sama gua kali ini”)
“Ok.......kalau gitu, kamu jemput aku ntar malem pukul tujuh di rumahku ya....!”
“Ok...........siiip..........trus............aku nanti pakai baju apa......gimana..............zzzzfdsagfsyh...bla...bla...bla.........!”
Telpon ditutup
Steve langsung berlari ke kamar. Mempersiapkan baju yang akan dipakai.
Tak lama...................jam sudah menunjukkan setengah tujuh malam.
Steven sudah siap dengan dandanan donjuannya.........donjuan kelas kacang tentunya. Rambut klimis, sedikit bedak di wajah dan lipstik tipis menggores bibir.
“Mau kemana Steve......?” tanya bunda Steve sedikit heran.
“.........Mau ke rumah teman, ada tugas kelompok yang harus diselesaikan”
“Oh..........hati-hati ya kalau begitu” Jawab bunda Steven dengan tatapan sedikit curiga.
“Steve.... berangkat dulu ya........bunda!”
Tancap gas................Steven segera menunggangi Vespa bututnya.
Tapi..........tiba-tiba........!
Oh.........Shiit.......
Kembali nasib apes menimpanya. Vespa bututnya mogok.
“Ah.............pake’ mogok segala sih.......................... Ya Tuhan......please.........jangan sekarang dong.”
Dengan perasaan sedikit kesal, Steve segera mengotak-atik vespa bututnya.
Kriiiiiiiiiing...........Kriiiiiiiiiiiiiiiiing..........!
Kembali suara telpon berdering
“Steve.......ada telpon nih................dari cewek”
(“waduh........pasti si Patricia. Pasti dia sudah menunggu nih..........”)
Secepat kilat, Steve merebut gagang telpon dari bundanya. Sementara bunda Steven hanya tersenyum melihat muka Steven yang belepotan dengan oli. Padahal baru saja berdandan necis abis, sekarang kok jadi belepotan ditambah badannya penuh keringat lagi........?
“Halo.....................Patricia.....” Suara steve sedikit merasa bersalah.
“Patricia.........? Siapa tuh Patricia?” Tiba-tiba terdengar suara lembut yang menjawab.
Steven terkejut dan merasa pernah mengenal suara itu.
“Siapa ini ya.............?”
“Aku............Putri.................Steve. Lupa ya sama aku?”
(“Aduh.................bener-bener disaat yang tidak tepat nih, gua kan lagi ditunggu Patricia!”) Bisik Steven
“Oh.....ya...........maaf Put........kirain siapa.Tumben kamu nelpon............ada apa ya?” Jawab Steven dengan perasaan gundah.......was-was.......dan sedikit khawatir, tetapi juga agak senang.
“Emangnya kenapa Steve..? Nggak boleh aku nelpon?”
“Oh....nggak....nggak............nggak apa-apa kok”
“Sebenarnya aku Cuma pengen ngomong sama kamu. Penting.......tapi nggak di telpon. Pengennya kita ketemuan aja Steve!”
“Ketemuan..........?Kapan...............Dimana?”
“sekarang aja........Steve..................aku tunggu kamu di cafe temenku. Kebetulan aku sudah di cafe Venus sekarang. ................Gimana.......Steve....? Bisa kan?”
(“Aduh sial banget sih......kenapa harus di saat begini, gua kan udah janjian sama Patricia..................gimana ya.....?”)Bisik Steven dalam hatinya yang bimbang.
Pikiran Steven mendadak jadi kacau nggak karuan. Mikirin Patricia yang udah nunggu di rumahnya, vespanya mogok......plus  Putri (Mantan pacar) Yang tiba-tiba mengajak ketemuan. Steven bener-bener bingung harus bagaimana.
(Eh inget......bung. Jangan serakah.............hati-hati pastikan untuk memilih salah satu saja, atau kau tidak akan pernah memiliki keduanya....................inget tuh resep jadi pecinta sejati! Rumus ke-delapan)
Setelah sedikit berpikir.........

“waduh...........Put. Sori ya......bukannya aku nggak mau ketemu sama kamu, tapi malam ini aku sudah ada janji dengan temenku. Sekali lagi sori ya Put..........”
“Oooooh..........Patricia....? Kamu ada janji dengan Patricia ya Steve? Pacar barumu ya?” Jawab Putri sedikit sewot.
Dengan gugup Steven pun menjawab
“Ah...mmm...nnn...iiiii...iiiya...sih........eh bukan Put, kita Cuma temenan aja kok!”
“Ya....ya..........aku kenal kamu Steve...” Ucap Putri sedikit kecewa.
“Gini aja Put.........gimana kalau ntar malem-maleman aja aku hubungi kamu?”
“Ok........deh nggak apa-apa! Aku tunggu ya telponmu...Steve........beneran loh!, sori udah mengganggu”
“Ok.....ok.............aku pasti hubungi kamu”
“Byee.............................!!”
Klek........
Telpon ditutup
(“Fiuh.........akhirnya satu masalah sudah selesai, sekarang tinggal masalah vespa bututku and Patricia nih”)

Belum lagi Steve beranjak dari pintu, tiba-tiba suara telpon kembali berdering.
(“Wah kalu ini pasti si Patricia nih..........”)
Secepat kilat, Steve mengangkat telpon.
“Halo.................Patricia?”
“Ya..........Steve..............kamu masih dirumah?Aku udah dari tadi nih nunggu kamu, jadi nggak kamu mau menjemput aku di rumah?”
“Oh.......ya....ya.......jadi...jadi, tunggu sebentar ya. Gua udah mau berangkat nih. Sori banget ya.......!Kamu marah ya?”
“Nggak sih........Steve...............Cuma acaranya kan mau dimulai. Cepet ya.............!”
“Ok...ok.......aku pasti secepat mungkin ke rumahmu” Ucap Steve penuh keyakinan, padahal vespa bututnya sudah siap menghalangi niatnya.
Belum sampai Steve di pintu, tiba-tiba suara bunda memanggil.
“Steve...........ke sini sebentar!”
“ya............ada apa bunda?” jawab Steve penuh tanda tanya.
“Steve......kamu harus jujur sama bunda, kamu bukan mau kerja kelompok kan?” Tanya bunda serius.
(“waduh............sialan nih.............ketahuan deh”)Bisik Steve dengan rasa takut dan merasa malu dalam hatinya.
“Iiiiiiiiiiya......bunda, maaf.......Steve bohong sama bunda!”
“Gitu dong...............jujur kan nggak ada salahnya. Ya sudah kalau gitu......hati-hati ya..............!”
“Ok bunda.......pesan bunda pasti Steve ingat”

Kembali
Belum sampai Steve di pintu, tiba-tiba bundanya memanggil kembali.
“Steve............!”
“Ya...bunda...?” Saut Steven sambil membalikkan badan, sementara rambutnya tertiup angin menutupi sebelah matanya (Mirip di pilem-pilem kartun men..!)
“Vespamu mogok ya...?” tanya bunda Steve dengan geli.
Dengan kepala tertunduk malu, Steve menjawab
“Iiiiya..bunda”
“Kalau mogok, gimana kamu bisa sampai tepat waktu.....Steve? kasihan kan cewekmu udah pasti nunggu dari tadi”
(“Tumben bunda perhatian nih...”)Bisik Steve dalam hati.
“Ya sudah Steve.......lebih baik kamu masukkan saja vespamu................................ini..............................kamu pakai mobil bunda aja. Mumpung ayahmu lagi nggak ada, kalau ayah sudah datang biar bunda yang mengatasi......................Ini.............!!” Ucap bunda Steve penuh perhatian sambil melemparkan kunci mobil kepada Steven.
CLAAAk............!!
Kunci kontak mobil sudah dalam genggaman Steven.
(Wiiih gaul abis men................bunda Steven emang keren.................gila bener deh...!)
“Terima kasih bunda...........doakan sukses ya!” Jawab Steven dengan rasa haru dan tatapan tajam kepada bundanya (Ih........mirip cerita-cerita jagoan yang mau berangkat bertarung aja.....................malu-maluin banget............dasar penulis kacangan sih...!)
Ok
Kembali ke Steven
Dengan penuh rasa gembira dan semangat yang meledak-ledak, steven berlari ke pintu mobil
BRAAK.......!!!!
Pintu mobil ditutup
Mesin menyala
Musik dimainkan
Dan
Tancap gas...............!!!!!!!!

(“waah..........mimpi apa ya gua nih.....................bisa kencan dengan wanita idaman gua, pakai mobil lagi...................................gila..........gila.......busyeeet...................Thanks God.....!!!! “)
“Yeeeaaaaaaach.................” Teriak Steve dalam mobil seperti orang gila. Norak banget deh pokoknya............!!!

------------****--------------

Mobil sedan pink yang super nyentrik itu melaju cepat dengan suara musik yang menggema............
Tak lama kemudian, mobil sudah terparkir di depan rumah Patricia. Dengan penuh percaya diri, Steven melangkah bak seorang pangeran yang akan menjemput sang cinderela.
Ting........Tong....................(Tebak Suara apa yo?)
a.      Suara Klakson mobil
b.     Suara Handphone
c.      Suara orang mau................
d.      Suara bel rumah

Jawabannya yang bener adalah suara Handphone Steven..........he.........he..................! (Norak banget ya........?)
“Ya..........aku sekarang sudah di depan pintu rumahmu..” Jawab Steven dengan suara mantap.
Klek.............
Pintu rumah terbuka
Namun, Steven terkejut sekali karena bukan Patricia yang muncul tetapi seorang laki-laki gondrong, brewok, bertubuh tinggi besar, berpuluh-puluh gelang dan kalung melingkar di leher dan tangannya.
“Sssselamat malam Om............Patricia ada..?” Tanya Steven dengan perasaan takut.
(Kok mirip salah satu iklan di TV ya..........kejadiannya?”
Dengan suara besar dan berat, Laki-laki itu segera menjawab.
“Oh.............ya..........ada.!!!”
Dari dalam ruangan tiba-tiba Patricia muncul sambil berlari.
“hey...Steve.........ayo segera berangkat” teriak Patricia kemudian memeluk laki-laki brewok itu dan mencium pipinya.
“Mmmmmmmmmuaaach................daaa ayah............aku berangkat dulu ya...........Oh iya, ini Steven (Sambil mengedipkan sebelah matanya)......Steve ini ayahku...”
Dengan perasaan heran juga takut, Steve menyapa
“Oooh...................Saya Steven om, teman Patricia”
(Gila bener nih orang................anaknya seperti bidadari, ayahnya kok mirip Preman pasar loak ya...?”Bisik Steven dalam hati.
“Ayo Steve.....kita udah terlambat nih” saut Patricia sambil menarik tangan Steven.
“Maaf om......kami keluar dulu....”
“Hmmmmm..........................” Jawab ayah Patricia dengan ekspresi minim. Tak lama kemudian, setelah pintu ditutup, ayah Patricia tertawa..........ha............ha......ha.....!!
(ada apa ya.............?”

-------------**--------
Kali ini Steven benar-benar seperti sedang menculik seorang putri dari tangan sang raja yang kejam. Apalagi, tangan Steven telah dipegang erat oleh Patricia. Berlari riang keluar halaman rumah.
Namun,
Tak lama kemudian.......................
Patricia berhenti dan memandang Steven dengan tatapan tajam, lalu tiba-tiba Patricia tertawa tertahan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sementara Steven bingung seperti ayam kehilangan telurnya. Mengamati kesana-kesini sambil mencari apa ada yang salah dengan baju yang sedang Ia pakai.
“Mukamu tuh kenapa Steve..........?Mau jadi Rambo...ya?
“Uppssst........” Seketika Steven terkejut.
Dengan menyembunyikan perasaan malunya, Steven coba mengarang cerita.
“Oh....ini..........anu..........ini. O..ya tadi waktu di jalan, aku menolong orang yang vespanya lagi mogok. Jadi.......yaa..........seperti ini deh, sampai lupa belum aku bersihkan......he...he...” Saut Steven sambil meyakinkan Patricia. Sementara Patricia hanya tersenyum saja.
(“Bilang aja...kalau Vespa lu yang mogok, tadi kan aku sempat nelpon ke rumahmu.......kebetulan bundamu yang angkat telpon.....trus cerita sedikit tentang vespamu yang lagi mogok”)Bisik Patricia dalam hati.
“Oh...gitu toh................ya sudah aku bersihkan sebentar ya....?” Ucap Patricia sambil mengambil sapu tangan di tasnya. (Romantiiisss....buoook!!!!!)
------------****-----------
Di dalam mobil......
Steven dan Patricia justru hanya saling berdiam diri. Sesekali mereka saling berpandangan tapi kemudian kembali memandang ke depan. (Jaim abis..!!)
Cukup lama mereka tak bicara. Sampai akhirnya tiba di pertigaan jalan.
“Eh..............kita mau ke Cafe mana  sih..?” Tiba-tiba Suara Steven memecah kebisuan.
“Oh...iya.................bego banget sih aku, belum ngasih tau kamu kita mau ke Cafe mana...ya.., Sori........sori..................(Sambil menunjuk ke arah jalan di depan) Nah....di pertigaan itu ntar belok kanan, trus setelah ada perempatan kita belok ke kiri.”
(“Belok kiri....?”)Bisik Steve dalam hati.
Beberapa saat kemudian, nampak beberapa mobil sudah berjajar di pinggir jalan.
“Nah....itu Cafenya.......Steve...?”
(“Cafe Venus....?”)Dalam hati, Steve terkejut.
“Wah.......sepertinya sudah banyak yang datang nih Steve.........kita tidak berhenti di sini, tapi kita ke rumah temenku dulu..........deket sini kok. Soalnya kita udah janjian mau berangkat  jalan kaki bersama.”
Sementara Steve masih asyik dalam lamunan.
“Nah............Steve, kita berhenti disini”
Steve masih melamun
“Steve...............Stop di sini”Kembali Patricia memanggil (Sambil memandang ke wajah Steven)
Steve terkejut..............kemudian menekan rem.
CciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiT....................
Mendadak mobil berhenti
“Gimana sih kamu Steve................ditanya ...eh...malah asyik ngelamun. Ingat sama pacar kamu ya...?” Ucap Patricia menggoda.
“Oh.............sori......sori (gugup)...sori.......................aku baru aja ingat kalau sekarang adikku juga lagi ulang tahun” Ucap Steve spontan. (Sialan.....lu Steve...............bohong lagi.......bohong lagi..........dasar buaya kacangan lu..)
“Wah.....kok kebetulan ya...................tapi kamu kok bisa lupa sih sama hari ulang tahun adikmu sendiri........?”
“Yaaaa.............Soalnya kita nggak pernah merayakan hari ulang tahun masing-masing sih, jadi ya selalu lupa siapa yang lagi ulang tahun...”
“aneh bener ya...........keluarga kamu.......?”
“Yaaaa.......begitulah...................aneh memang sih. Oh iya kita turun di sini?” steve mengalihkan pembicaraan. (Takut bohongnya ketahuan tuh.......! Berbohong untuk kebaikan demi mencairkan suasana. Rumus ke-sembilan)
“ya...............kita turun di sini. Ntar mobilmu parkir aja di sini, kita jalan kaki ke Cafe. Tuh temen-temenku udah pada nunggu di depan”
(“Busyeeet..............cantik-cantik bener tuh cewek-cewek..................Upsssst........tapi gua nggak boleh tergoda. Sekarang hati gua hanya untuk Patricia seorang”) Bisik Steve dalam hati.
Ciiih..............week..........sok setia lu Steve..!!
Tak lama berselang, teman-teman Patricia datang menghampiri.
“Waaaaah.......pacar baru nih....?” Sambut teman-teman Patricia.
“Ah.....apaan sih kalian ini” Ucap Patricia tersipu. Sementara Steve hanya tertunduk malu. (Malu-malu tapi nafsu.......)
Setelah beberapa saat bercuap-cuap....basa-basi segala macam gitu deh pokoknya...................Akhirnya mereka berlima berangkat ke Cafe dengan berjalan kaki.
Di perjalanan..................
Steven bagai seorang donjuan yang diiringi oleh empat cewek cantik. Namun, jangan membayangkan bahwa Steven melangkah bagai seorang pangeran yang hendak pergi ke pesta dan diiringi para selir dan permaisurinya, tetapi kali ini Steven hanya melangkah lesu di belakang empat cewek yang sedang asyik bercakap-cakap. Persis seperti “Kambing Congek” yang mengekor pada sekawanan serigala betina. Tak ada teman bicara.........alias di cuekin abis!! (kacian deh lu Steve....)
Beberapa menit kemudian, akhirnya perjalanan yang sangat membosankan sekali bagi seorang Steven itu, berakhir juga.
Di dalam cafe.........
Suara musik, canda tawa, suara gelas beradu, suara piring dan sejumlah keributan lainnya menyatu menjadikan suasana pesta ulang tahun yang super ramai, berisik tapi juga seru.
Patricia dan kawan-kawannya asyik bercanda dan bercerita kesana kemari, sementara Steven tetap seperti kambing congek yang akan disembelih. Diam membisu, seolah memasuki dunia aneh yang sudah lama ia tinggalkan. (Ya..............tahu sendiri kan...................dulu Steven paling giat pergi ke party-party or dugem bersama teman-temannya. Tapi sekarang sudah lama insaf, dan itu semua karena Patricia........................iiiiiiiiiihhh.........so sweeeet..!!!)
Perasaan Steven saat itu benar-benar.......................
Iiiiiiiiiiiiiih.........Uuuuuh........................nggak mungkin untuk dijelaskan deh. Suntuk, bosan, senang, sedih, khawatir, takut semua menjadi satu dalam pikirannya.

“Waduh........sial banget (Sambil melihat kesana-kemari) Semoga nggak ketemu......................semoga nggak ketemu.....” Bisik Steven dalam hati terus menerus.
Patricia masih asyik dengan teman-temannya, seolah lupa bahwa disampingnya ada kambing congek yang dari tadi kesepian.
Ditengah-tengah keramaian acara. Tiba-tiba musik berhenti..............dan suara gaduh sedikit berkurang. Sebuah permainanpun dimulai.
Salah satu orang yang ditunjuk harus memilih dan memecahkan sebuah balon.
“Silahkan ............cewek berbaju putih di sebelah sana maju ke atas panggung” teriak pembawa acara.
Karena tempat duduk Steven agak jauh dari panggung, Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang dipanggil.
Tapi seperti biasa.........mata Steven tak henti-hentinya mengagumi sosok cewek cantik yang sedang naik panggung itu. (Dasar..................pecinta wanita sejati lu Steve...!!)
(“Gila......cantik banget....................tapi..............???”)
Tak lama setelah Putri naik ke panggung...........
DUAAAAR......................!!!
Suara balon meletus, warna hijau lagi........Hati Steven sangat kacau, kini balon tinggal empat tapi tidak dipegang erat-erat..............soalnya ntar jadi lagu anak-anak.
Ok.....lanjut!!
Dari dalam balon..........terlontar secarik kertas yang harus segera dibuka dan dibacakan keras-keras oleh si pemecah balon tadi.
Suara musik berhenti.............keramaianpun segera padam. Suasana mendadak sepi......hening. Hanya suara pembawa acara saja yang terdengar jelas.
“Ok...teman-teman, sekarang mari kita dengarkan sebuah perintah yang harus dilakukan oleh ................. maaf boleh tahu namanya..... ?”
“Putri...”
(“Busyeeet.........................Putri?? mampus dah gua. Kok bisa kebetulan gini ya......?”) Bisik Steve dengan super amat sangat terkejut banget sekali (Gimana sih.......bahasa lu........nggak baku banget deh...!)
Kebetulan sekali..............??
Guoblok.......bego’...............Justru itu yang bikin cerita ini jadi semakin kacangan.
“Ok............teman-teman mari kita dengarkan perintah apa yang harus dilakukan oleh Putri. Silahkan putri........!!”
“Mmmmm.......dalam kertas ini tertulis (Suara Putri begitu merdu and super soft)....Kamu harus menceritakan tentang orang yang paling kamu cintai sampai saat ini” Ucap Putri sambil tersenyum dan kemudian segera menutup senyumnya dengan jari-jari tangannya yang lentik.
Suasana mulai sedikit ribut karena gelak tawa, celotehan dan teriakan.
Sementara Steven semakin bingung....gusar....dan mencoba menyembunyikan perasaan kacaunya dari Patricia yang sedari tadi seolah mulai menatap curiga akan gerak-gerik Steven yang tidak bisa tenang di tempat duduknya.
“Yak.............sekarang silahkan kamu ceritakan tentang seseorang yang paling kamu cintai sampai saat ini. Terserah.................mau yang baik-baiknya atau yang jelek-jeleknya. Bebas...deh................!” Teriak pembawa acara dengan penuh semangat yang meledak-ledak, menggelora, berapi-api dan menyala-nyala.
Dengan malu-malu, Putri segera bercerita.
Suasana kembali sepi...hening dan semua mata tertuju pada Putri. Entah karena ingin menyimak ceritanya, karena bajunya, kecantikan wajahnya, keseksian tubuhnya atau karena ...”Tiiiit”nya semata.
Tiba-tiba Steve berbisik pelan
“Patricia............aku mau ke belakang sebentar ya...!”
Patricia menjawab pula dengan setengah berbisik
“Ya......tapi cepetan ya......!Soalnya ini acara paling seru Sateve....”
Steven segera  berdiri dari kursi kemudian dengan tergesa-gesa berlari menghilang di kegelapan lorong toilet.
Sementara Steven pergi ke toilet, Putri mulai bercerita.
“Saya akan menceritakan tentang seseorang yang paling saya cintai sampai saat ini. Dan orang itu adalah mantan pacar saya...(Diam sejenak sambil tersenyum) Sebenarnya aku udah berkali-kali pacaran sih, tapi juga berkali-kali pula putus. Jadi mantan pacarku itu ada banyak sekali...................”
“Huuuuuuuuuuuuu......Oiiiiiii.........Ha...ha....ha.....” Spontan suara gaduh  kembali menyala.
"Eh.....tapi dengar dulu dong..”(Tiba-tiba Putri memotong)
Suasana gaduh kembali sedikit tenang
“Tapi...........ada salah satu mantan pacarku yang paling berkesan dan sangat aku cintai. Meskipun aku baru sadar kalau ternyata dia adalah cowok paling baik yang pernah aku kenal”
Suasana semakin hening
“Ya.........mantan pacarku yang paling aku cintai bahkan sampai saat ini namanya adalah Steven”
“Steven..........?”Patricia terkejut, begitu juga dengan teman-temannya. Mereka berempat saling berpandangan.
Putri melanjutkan
“Steven.................adalah cowok yang paling baik, perhatian dan sangat menghargai cewek. Dia bener-bener cowok ideal bagi siapapun. Cerdas, tampan, pandai memperlakukan cewek, dan setia”(Rumus ke-sepuluh)
Patricia hanya terdiam dan semakin serius menyimak cerita Putri. Begitu juga dengan semua orang, tersihir oleh cerita Putri yang begitu menyentuh.
“.................Steven adalah salah satu mantan pacarku yang tak akan pernah aku lupakan dalam kisah cintaku. Steven adalah cowok yang paling menghargai cewek lebih dari apapun. Dia adalah pribadi yang terlalu sempurna bagiku. Karena itu, aku merasa bahwa aku sangat tidak pantas bersamanya. Dan akhirnya aku memutuskannya secara sepihak. Seandainya dia tahu, sungguh sebenarnya aku tidak berniat untuk melukai hatinya. Andai aku masih bisa bertemu dengan dia, hanya kata maaf yang ingin aku ucapkan kepadanya. Rasa bersalah ini selalu mengganjal di pikiranku.”
Suasana kini menjadi semakin hening
“ Sampai kapanpun.............aku akan tetap mencintainya, karena tidak mungkin aku bisa melupakannya....................................Terima kasih”
“PLAK...PLAK...PLOK.....PLAK.....PLOK........” Seketika suara tepuk tangan membahana dalam ruangan diikuti dengan sorak-sorai penonton yang terlihat tersentuh dengan apa yang baru saja diceritakan oleh Putri.
Dilain pihak, Patricia masih terdiam di tengah kericuhan suara tepuk tangan dan sorak-sorai itu. Seolah ada sesuatu yang tiba-tiba membangunkan hati dan pikirannya. Entah perasaan seperti apa yang kini dirasakan oleh Patricia.
Tiba-tiba
Steven datang dan dengan tampang tak berdosa langsung saja duduk di samping Patricia.
“Darimana aja sih Steve...........kok lama banget? Ke belakang atau kemana sih? Tanya Patricia sedikit sewot.
“Ya..dari kamar kecil..............emangnya kenapa?” Jawab Steve sedikit heran.
“Nggak kenapa-kenapa sih. Abis kamu lama banget sih.”
“Sori.......sori....”

(“He...he....he.....mau nggak lama gimana, orang gua abis Be’ol. Gara-gara tadi siang kebanyakan makan sambal”) Bisik Steven  dalam hati.
-----------***---------
Sebelum acara selesai, Patricia mengajak Steven pulang terlebih dahulu.
Setelah berpamitan dengan teman-teman Patricia, mereka berdua langsung cabut.
Wuuusssss.........................
Di dalam mobil
Patricia hanya terdiam saja, sementara steven berusaha mencuri-curi pandang ke arah Patricia dengan seribu tanya dalam pikirannya.
Mobil berjalan lambat,...........Steven mengambil jalur pulang yang lebih jauh...............memutar melewati jalur yang sepi........He..........he....cari kesempatan nih...!!!
“Hey...........(Saut Steven memecah kebuntuan suasana)........Kamu nggak apa-apa?”
Patricia hanya menggelengkan kepala
“Ada apa sih...?” Tanya Steven serius
Diam sejenak
“Ada apa gimana...?’ saut Patricia
“Kamu...tuh”Jawab Steven
“Kamu......apanya?” Tanya Patricia
“kamu kenapa....?”tanya Steven kembali
“kenapa gimana...?” jawab Patricia
“Kamu tuh....kenapa?”Tanya Steve agak sedikit kesal
“Nggak.........”Jawab patricia dingin.
“Nggak apanya....?” Saut Steve
“Nggak gimana-gimana......” jawab Patricia
“Nggak gimana-gimana apanya...?” Tanya Steve
“Ya..nggak apa-apa...” jawab Patricia juga kesal
“Nggak apa-apa gimana...?” Tanya Steven lagi
(Kok pertanyaannya bolak-balik bolak-balik puter-puter ..........ada apa, kenapa, gimana, apanya,  apanya yang gimana..............duh..............bikin bingung aja....!)

Kembali suasana sepi, kosong....and garing
........................................
“Ada apa sih dengan kamu....” Kembali steven memecah suasana.
Diam sejenak
“Ada apa gimana...?’ saut Patricia
“Kamu...tuh”Jawab Steven
“Kamu......apanya?” Tanya Patricia
“kamu kenapa....?”tanya Steven kembali
“kenapa gimana...?” jawab Patricia
“Kamu tuh....kenapa?”Tanya Steve agak sedikit kesal
(Kok balik lagi sih...........ada apa, kenapa, gimana, kenapa gimana, apanya..................???????)
Ok
Sori................kita lanjutkan lagi
“Ada apa dengan kamu sih.............?” Tanya Steven
“Ada apa gimana....?”
“Yaa................aku kan jadi bingung. Tiba-tiba saja kamu minta pulang, trus diam......dan jutek.Aku kan jadi serba salah...? Kenapa................kamu marah ya sama aku?
“Marah...............?? Nggak.........aku nggak marah kok sama kamu Steve” Jawab patricia dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Steve semakin merasa bersalah, tapi semakin bingung saja kepada Patricia.
Laju mobil sedikit lebih kencang melintasi jalan yang mulai sepi.
Kembali suasana menjadi sunyi
..................................
“Steve..........!” Suara Patricia tiba-tiba merobek sepi.
Steven hanya menoleh kepada Patricia
“Cewek yang tadi memecahkan balon itu..............................(Patricia diam sejenak, sambil menghapus butiran air mata yang mulai menggenang).........Cewek berbaju putih tadi.............kamu kenal kan sama dia?” Tanya Patricia tanpa memandang kepada Steven.
“Cewek berbaju putih...?” Steve menjawab pura-pura bingung.
“Ya..........cewek berbaju putih yang tadi memecahkan balon warna hijau...itu.......................kamu kenal kan?”
“Oh...Putri............?” Jawab Steven pura-pura cuek, padahal hatinya mulai gusar
Suasana kembali sunyi
“Dia pacar kamu kan..?” Tanya Patricia kembali, kali ini dengan menatap Steven.
Steven terdiam
(Busyeet.....tau darimana dia.....ya?)Bisik Steven dalam hati.
“..................Dia pacar kamu kan......?”
“Pacar...?? Bukan.......bukan.........tapi mantan pacar”
“kamu masih cinta sama dia...?”
“yyy..mmmmmm...... (steven semakin gugup)............mm
Patricia segera memotong
“Jawab Steve..................kamu masih cinta kan sama Putri?”
Steven terdiam lagi
(“Aduh.............sialan gua mesti jawab apa ya? Dibilang masih cinta ya iya, tapi kalau ngomong jujur ntar rencanaku gagal total nih..............aduh...................kena SKAT MAT deh”) Ucap steve dalam hati menggerutu.
“Steve..............” Kembali Patricia bertanya memaksa
Tapi tiba-tiba.........
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.....................!!!
Mobil berhenti mendadak
Steven memandang tajam kepada Patricia. Keduanya saling berhadapan.
“Ok...ok gini aja deh.............sekarang aku balik bertanya sama kamu, kenapa tiba-tiba kamu bertanya macam-macam tentang Putri, pacar kamu lah...........masih cinta lah.................ah Sebenarnya kamu tuh kenapa sih Patricia?” Steve bertanya dengan ekspresi sedikit kesal kepada Patricia.
Patricia hanya terdiam tak menjawab apa-apa
“..Yyaa....mmm...kkkrrnn...................”
“Karena apa...........?” Bentak Steven sedikit keras
“Karena...............mmmmmmm..........kkkkkkrrrnn........”
“Ayo dong......karena apa.........................jangan bikin aku semakin bingung” Saut Steven memotong.
(He...he.......kamu cemburu kan...? Kena....lu.....!) Bisik Steve dalam hati.
“Ah..........sudahlah, sekarang anterin aku pulang dulu. Ini sudah malam, ntar ayahku marah sama kamu Steve...!”
Jreeeng.....................!!
Tiba-tiba Steven teringat pada sosok ayah Patricia. Terbayang bagaimana seandainya sosok manusia garang seperti itu marah kepadanya. Steven membayangkan bagaimana jika tangan ayah Patricia yang kekar itu menghantam mukanya..................iiiiiiiiiiiiiiiih................pasti ancuur.......abis..!!
BRUUUM....................BRUUUUUUUUM............!!
Segera......Steven tancap gas ..................pulang ke rumah Patricia. Keringat dingin mulai membasahi tangan.
(“Waduh.........semoga tidak marah.........semoga tidak marah..........................”) dalam hati Steve selalu berdoa semoga ayah patricia tidak marah kepadanya karena terlambat pulang.
--------****---------
Sampai di rumah Patricia, Steven tidak berani mengantar Patricia masuk ke rumahnya.
“Di sini aja ya............?”
“Loh...............kenapa Steve......?”
“Aku takut dengan ayahmu..........” jawab Steve dengan ekspresi takut tapi juga malu.
“Ah......ayo lah.........Steve......masuk dulu...”
Patricia menarik tangan Steven dan memaksa steven untuk mengantarnya sampai di depan pintu rumah.
Ting....Tong............Ting...Tong....!
Patricia memencet bel, sementara Steven seperti anak ayam yang bersembunyi dibalik induknya.
Ting....Tong.................Ting....Tong.....!
Tak lama kemudian, pintu terbuka
Dan
Seorang wanita cantik dengan senyum yang tersungging tiba-tiba berdiri di depan pintu.
“Mama.....maaf.....ya........aku kemalaman, abis............ acara ulang tahunnya baru saja selesai” Saut Patricia sambil mencium kedua pipi mamanya.
“Ya sudah cepat masuk dan suruh temanmu itu duduk dulu. Ayahmu baru saja berangkat ke bali...ada acara mendadak  dengan teman-temannya” Suara mama Patricia begitu lembut dan anggun.
(“Yes..........untung...........untung... ayah Patricia nggak ada..!”)Bisik Steve dalam hati
“....Nggak usah tante, saya juga harus cepet pulang...kok..............udah malam. Besok juga masih harus sekolah.........terima kasih tante” Saut Steve sambil mengumbar senyum.
“Ya sudah kalau begitu...................Saya tinggal ke belakang dulu ya, dari tadi perut saya ........mules!!!!”

(“He.....he.................sama tuh dengan gua...”)Bisik Steve kembali dalam hati
Setelah mama Patricia masuk, tinggallah Steven dan Patricia berdua.
Wuuuuusssss...zzzzzzzz..........................
Angin malam bertiup
“Ya sudah...........Patricia...........aku pulang dulu ya..........sampai ketemu besok...................terima kasih banyak sudah mau ngajak aku!
“Eh...........(Sambil tersenyum) mestinya aku yang berterima kasih sama kamu dong Steve. Terima kasih udah mau nganterin aku......................maaf kalau tadi aku bikin kamu kesel”
“Ya..........ya...........ya ..........nggak apa-apa kok! Oh iya, tapi kamu nggak marah kan sama aku” Tanya Steve kali ini sambil tersenyum.
Patricia hanya menggelengkan kepala dan membalas dengan senyum.
“Oh iya....aku mau tanya sesuatu sama kamu....Patricia?”
“apa..........Steve..?”
“Anu..........(sambil menggaruk-garuk kepala persis seperti seekor monyet)....tapi kamu jangan marah ya................?.”.
“Masalah tadi di mobil.........?” Saut Patricia
“Bukan........bukan..................tapi ayah kamu........Patricia........he...he......”
“Emangnya ada apa dengan ayahku Steve..?”
Steven menjawab dengan malu-malu
“Yaa....................aku takut sama ayah kamu, soalnya...................sori ya..................mirip preman”
Patricia langsung tertawa geli
“Ha.....ha.....ha...............Steve...........Steve.............dasar kamu, menilai orang kok dari tampangnya aja. Nggak usah takut.............lah.................meskipun ayahku tuh persis preman, tapi hatinya sangat baik, penyabar lagi. Tidak pernah sekalipun Dia memarahiku. Dia tuh seorang seniman sekaligus petualang. Kamu lihat sendiri kan...............? baru tadi pukul tujuh ada di rumah..........eh....sekarang sudah ke Bali......Yaaaaaah................begitulah..............tapi nggak usah takut. Ayahku emang nyentrik sekali orangnya”
“Oooooh....gitu....ya...........ha.....ha......ha...............ternyata aku baru saja tertipu dengan tampilan seseorang........”
“Karena itu steve...........menilai orang itu jangan hanya berdasarkan tampilan luarnya saja”
Wuuussss...................zzzzzzzzzzzzzzz........

“Patricia................aku boleh tanya sesuatu lagi sama kamu..?”
“Apa lagi Steve..........?”
“...............laki-laki yang tadi siang menjemput kamu naik mobil itu siapa sih?.........pacar kamu ya?.......atau mantan pacar kamu.......?”Tanya Steven menyidik.
“Pacar..............?........ha.....ha.......ha.............Dia tuh kakak aku Steve.......!”
“Ooooh.....................” (“Syukur.........syukur kalau begitu........”) Bisik Steve sedikit lega.
......................................
Wuuuuuuuuuuussss.....zzzzzzzzzzzz..........
Kembali angin malam berhembus...........
Malam yang dingin saat itu berubah menjadi malam yang hangat bagi mereka berdua. Percakapan-percakapan ringan mulai mendekatkan hubungan mereka.
Kencan pertama dengan Patricia, bagi Steven begitu berkesan, seru sekaligus penuh dengan ketegangan.
Meskipun Steven tidak sempat “nembak” Patricia, tapi Steven merasa cukup senang sekali karena sudah bisa ngobrol banyak dan semakin dekat dengan Patricia. Berarti proses PDKT berjalan lancar dan sukses besar...!! Itu artinya....................sasaran sudah dibidik....dan terkunci. Tinggal .....................”DOR”.....!


-----------***-------







MEKARNYA
BUNGA ABADI


Sampai di rumah, Steven langsung tidur.
Bolak-balik badan berguling-guling beradu dengan kasur dan bantal, tapi mata masih tak bisa juga untuk terpejam, rasa kantukpun tak jua datang.
Hati Steven begitu berbunga-bunga, pikirannya melayang menembus segala kenyataan dalam hidupnya.
Patricia.............
Patricia...............
Patricia................
Ya ....................................di otak Steven hanya ada Patricia dan sejuta angan-angan untuk bisa selalu bersama dengannya selamanya.
............................................................
Malam semakin larut
Suara angin sesekali terdengar begitu memilukan, ujung-ujung pohon bergoyang, sementara suara jangkrik  dan lengkingan kelelawar sesekali mengajak Steven berbincang. Jangan tidur dulu..........
Steven segera bangkit dari tempat tidurnya. Dibukanya jendela kamar.
Wuuuuusssssssssszzzzzzzzzzzzzzz..................
Suara angin malam, masuk menerpa badan Steven yang sedang panas membara. Terbakar api cinta.
Steven duduk di jendela, mengamati bintang-bintang yang seolah asyik berbincang dengan bulan yang masih setengah purnama.
Dari kejauhan terlihat lampu-lampu rumah yang menyala seperti sebuah lilin. Menyala samar-samar seolah turut memberikan selamat kepada Steven atas perjuangannya yang hampir sampai di penghujung.
“Diantara lampu-lampu itu..................Patricia tinggal. Mungkin sekarang sedang tidur nyenyak. Mungkinkah dia memikirkan aku juga...........Tuhan..?” Steven curhat pada Tuhan.
“Tuhan.................terima kasih kali ini engkau berpihak padaku.....” Sambil memandang ke langit.
Tiba-tiba
Wuuuuuusssssssssssssssssss......................
Sebuah bintang jatuh melintas dan langsung menghilang.
Tak mau membuang kesempatan, Steven segera mengucap permohonan. Soalnya katanya sih, kalau kita melihat bintang jatuh trus kita berdoa pada Tuhan maka apa yang kita inginkan akan segera terwujud. Gitu deh......mitosnya..!
Dalam hati Steven berdoa
“Gua cuma ingin Patricia ............Tuhan”
Angin tiba-tiba bertiup agak kencang.
Wuuuuusssssssssssssssssszzzzzzzzz...........
Tak ingin masuk angin, Steven segera masuk kamar dan menutup jendela.
BRUK.................
Steven menghempaskan badannya di atas kasur
Pikiran masih kacau
Rasa kantuk belum juga datang
TIBA-TIBA...........!!!!!!!!!
Tilut...tilut.................................tilut..........tilut
Suara handphone  membuyarkan lamunan Steven
(“Aduh.................Putri................................Iya ya. Aku kan janji mau nelpon dia. Wah.............ini pasti dia nih yang nelpon”) Bisik Steven Pe-de.
Steven segera bangun dan bingung mencari dimana asal suara tadi. Steven lupa menaruh Hp-nya dimana.
Tilut......tilut................................tilut..................tilut.
“Waduh..........gua taruh dimana Hp gua ya...?”
Beruntung,
Tak lama kemudian,Steven menemukan juga Hp-nya yang ternyata ada didalam tumpukan baju kotornya.
Ternyata di dalam saku celana yang dipakainya tadi siang.
layar Handphone menyala berkedip-kedip, Steven langsung mengangkat.
 “Halo.............siapa ya...?” Saut Steven penuh tanda tanya.
“Ya............(tiba-tiba suara lembut seorang cewek menyaut) Halo..........Steve. Sori ngganggu...................ini aku PATRICIA”
Uuupppsssst.........................!!!!!!!!

“PATRICIA....................?????”
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Seketika hati Steve menyala, berbunga, meledak..............wah............pokoknya campur aduk bin amburadul deh...!
Steve terdiam, sejenak pikirannya melayang
“Halo......Steve...........!” Kembali Patricia menyapa
“Oh.....ya...ya................(gugup plus senang).....Patricia.........ada apa malam-malam kok nelpon?” Jawab Steven penuh semangat.
“Sori ya udah ngganggu............ Steve.............aku mau ngomong tentang masalah tadi....”
“Masalah tadi.....?.”
“Iya...........masalah tadi”
“.................. Yang mana....?”
“Ya......masalah tadi itu.....Steve....”
“Masalah tadi itu yang mana.....?”
“Masalah tadi yang itu tu....”
“Masalah yang tadi itu.......yang mana?”
“Ya...masalah yang tadi itu.....Steve”
(Kok.............bolak-balik lagi sih pertanyaannya......?”)
“Oh......ya.....ya......masalah yang tadi itu toh...”
“Iya........masalah yang tadi waktu itu tu......”
“Ya......ya.........aku ngerti.......Masalah yang tadi yang waktu itu toh”
“Iya......”
“Emangnya kenapa ?”
“Tapi kamu harus jujur ya....Steve.......?”
“Jujur...?”
“Iya........kamu harus jujur sama aku tentang Putri...”
“Oh......Putri...........................Ok...ok!”
(“Waduh busyet........bakal kena SKAK MAT lagi nih gua”) Bisik Steve dalam hati.
“Nah........sekarang coba kamu jawab dengan sejujur-jujurnya pertanyaanku ini Steve.............................Kamu masih cinta.....kan....... sama dia?”
 (“Waduh kena SKAK MAT nih.........!!”)
“Kenapa pertanyaan ini lagi....?” Bisik Steven dalam hati.
Patricia menambahkan lagi
“Seandainya dia mau ngajak balik lagi sama kamu, kamu mau nggak Steve..?” Tanya Patricia dengan nada serius tapi sedikit sinis.
“Waduh.....gimana.....ya...........?”
“Gimana apanya....Steve...........?”
“Nggak................maksudnya ngajak balik jadi sahabat atau jadi pacar?” Saut Steve berusaha membelokkan arah pembicaraan.
“Ya......jadi pacar dong Steve....!”
“Ooooh............”
“Gimana Steve.....? Kamu mau kan?”
Steven kembali terdiam
Berpikir
“Wah.....sekarang gua harus memilih nih, gua harus berani menyatakan bahwa gua hanya membukakan pintu hatiku only for Patricia. Ya........ya...........sekaranglah saat yang paling tepat untuk nembak Patricia nih” Bisik Steven dalam hati.
“Steve.......................?”
“Ehm....ehm.....(Steven memantapkan suaranya)......Tidak..............Tidak Patricia. Jelas aku tidak akan mau balik lagi pacaran sama putri. Hatiku sudah tertutup untuk dia” Jawab Steve tegas (Tumben lu Steve.........gitu dong...... jadi laki-laki harus tegas)
“Sungguh Steve...........?” Suara Patricia memastikan
“Iya.......bener......sumpah deh. Sebenarnya aku tuh cint..............zzzzz...Tiluutiiiiiiit.........................
Tiba-tiba pembicaraan terputus
“Ah...............Sialan. kok putus sih............? Baru aja gua mau nembak Patricia” Steve menggerutu kesal.
Segera Steven menelpon balik Patricia dengan tergesa-gesa.
Na.....na.....na....na..........terdengar sebuah lagu nada sambung,
“Halo...........” Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dengan nada yang berat, serak dan super fals.
Steven terkejut
“Halo.....halo.......” Kembali Laki-laki itu menyaut berkali-kali.
Tanpa disadarinya, ternyata Steven salah mencet nomor temannya.
“Aduh......kok jadi nelpon Supeno sih........Sialan”
Tanpa basa-basi, Steven langsung menutup.
Kembali Steven mencoba nelpon Patricia
Tit....tut....tit....tut.......tit........tut.......
Nomor ditekan
Dan
“Maaf......pulsa yang anda miliki tidak mencukupi, silahkan isi ulang pulsa anda sebelum......................”
“wah...............sial. Pakai habis segala sih” saut Steven semakin kesal.
Tak kehabisan akal. Dasar Steven.....................Dia segera turun kebawah dan mengambil gagang telpon rumahnya.
Apes.........
Telpon rumahnya terkunci
(Ha......ha...............terus berjuang Steve, Cinta selalu butuh perjuangan...)
Steven semakin kesal sekali
“Tuhan.......please.....tolong aku......kali ini aja....”
Akhirnya Steven menemukan akal, Ia mengendap-endap masuk ke kamar adiknya persis seperti seorang maling.
Pelan-pelan Steven melangkah.......(“He....he............mencuri untuk kebaikan kan jadinya impas.”) Bisik Steve dalam hati.
“Yeach.........akhirnya.......” Steven menggenggam Hp adiknya, Sementara adik Steven masih tertidur pulas.
Steven segera naik ke kekamarnya dan secepat kilat menekan nomor Patricia.
Tit...tut......tit...tut.......tit.......tut
Nomor ditekan
Dan
(TEBAK.............!!!!!)
Kira-kira yang mana yang betul...........silahkan anda menyilang jawaban yang anda anggap paling benar.
a.      Pulsa habis
b.     Tidak tersambung
c.      Baterai lemah
d.      Ketahuan adiknya
e.      Tersambung
Dan
Jawabannya adalah...................
(E) Tersambung
“Halo..........Patricia....!!”
“Ya.......Steve.........”
(“syukurlah....................” Steven bernafas lega)
“Sori Steve................tadi tiba-tiba terputus. Pulsaku abis.”
“Oh........pantes........tad........” Tiba-tiba Patricia memotong.
“ Eh..............Steve,ini baterai Hp-ku lemah. Sebentar aku Cas dulu ya. Kamu tutup dulu aja telponnya, ntar kira-kira lima menit lagi kamu nelpon aku lagi ya...?”
“Ok....ok....” Jawab Steven cemas
Bagi Steve, penantian lima menit terasa lima ratus tahun lamanya.
“Aduh..............kenapa lama banget sih.......”Ucap Steve dengan rasa yang tak sabar lagi.
Akhirnya.............lima menit berlalu juga.
Langsung saja Steven menelpon Patricia.
Tit...tut....tit.....tut......tit.............tut

“Halo.....”
“ya......Steve.......”
“sampai dimana tadi kita ngobrolnya ya.............?” Tanya Steven penuh basa-basi, padahal dalam hatinya tak sabarlagi mau nembak.
“Oh......iya...ya...............Sampai dimana tadi ya.” Saut patricia sambil sedikit tertawa.
Sesaat keduanya terdiam
kemudian
“Oh..............iya Steve, sampai saat aku bertanya sama kamu apakah kamu masih mau balik lagi dengan Putri (Keduanya terdiam lagi) ...................Gimana Steve......? Kamu masih mau balik sama Putri?”
Dengan tegas, Steven segera menjawab.
“Tidak........Patricia, sudah pasti aku tidak akan mau balik sama Putri”
“Bener nih.....?”
“Bener......sumpah deh..........” Saut Steven berserapah
(“Wah sekarang nih waktu yang tepat buat nembak dia....”) Bisik Steven dalam hati.
Belum sempat Steve bicara, Patricia menyambung pembicaraan.
“Steve........kamu tahu nggak, saat kamu ke toilet tadi waktu kita di Cafe. Sebenarnya Putri bercerita tentang mantan pacarnya yang paling dia cintai dan tak akan pernah Ia lupakan sampai kapanpun. Dan Ia ingin minta maaf karena telah menyakiti hatinya. Kamu tahu nggak siapa yang dia maksud...............?”
Steven terdiam
“Kamu Steve........”
“Aku..?” Jawab Steven terkejut
“Iya.......Steve”. Putri masih mencintai kamu
“Busyet..................kenapa disaat seperti ini justru kupu-kupu mulai mendatangi sang kumbang? Waduh..........aku harus tetap mengambil keputusan untuk segera memilih nih..... Sekarang atau tidak sama sekali” Bisik Steven dengan kepala yang mulai membesar hampir meletus.

Steven segera memulai pembicaraan kembali
“Patricia.............”
“Ya.......Steve.........”
“Aku tidak peduli, meski Putri masih cinta sama aku atau tidak. (Diam sejenak) ..................Patricia.................aku ingin berterus terang sama kamu. Sejujurnya..........aku tidak cinta lagi pada Putri.....................”
Pembicaraan menjadi serius. Sementara Patricia hanya terdiam seolah menunggu Steven mengatakan sesuatu.
(“Ya.......Sekaranglah saatnya.......”)Bisik Steven dalam hati.
“Patricia..................tahu nggak..............sebenarnya aku tuh CINTA SAMA KAMU...”
DUAR....DER....DOR.........DUK....DUK...DUK..DUK.!!!
Jantung Steve berdetak kencang
(“Akhirnya......................setelah sekian lama ku pendam................akhirnya aku mengatakannya.....”) Bisik Steven dengan perasaan yang lega. Segala beban pikirannya seakan tiba-tiba lenyap dan menghilang entah kemana.
Akhirnya..............Steven menyatakan cintanya kepada Patricia.
DOR.......!!!!!....akhirnya Steven berhasil nembak Patricia.
Sementara Patricia masih terdiam membisu, tak bersuara sama sekali. Hanya desah nafas yang semakin kencang saja yang terdengar di telinga Steven.
“Halo....” Steven kembali menyapa Patricia
“Ya...Steve...” Patricia menjawab dengan nada yang tiba-tiba turun setengah oktaf (Wah seperti apa nada turun setengah oktaf itu ya....?)
“Patricia................Would you married me....?”
Loh kok jadi ngelamar mau kawin sih....?
Oh....iya.....sori-sori.........gua udah kecapekan nulis nih.....!!
Kita ulangi
“Patricia.................kamu mau nggak jadi pacarku?”
Wueek.....wueek.........cuih.....cuih........iiih........jijik buok...........seperti di sinetron-sinetron aja.
Patricia masih terdiam
Steven benar-benar seperti sedang duduk di kursi listrik dan tinggal menunggu eksekusi mati.
“Halo.................halo...........Patricia...........halo....halo.....”
“Steve..........(tiba-tiba suara Patricia menjawab pelan)...........kamu tahu nggak kenapa aku mutusin Tejo..?”
(“Meneketehek........emang gua pikirin......he....he.....”)Bisik Steven dalam hati.
Patricia melanjutkan kembali
“Aku mutusin Tejo karena aku tuh sebenarnya nggak pernah cinta sama dia. Awalnya aku mendekati Tejo sahabatmu, cuma ingin mengenal kamu steve, tapi setelah tahu kalau kamu sudah ada yang punya, maka aku mundur dan aku pacarin....aja Tejo untuk pelampiasan rasa kekecewaanku...”
(“Oh my god...........kejem juga nih cewek. Coba dari dulu kamu jujur padaku....Trus.......trus.................”)Bisik Steve dalam hatinya.
“.......Sewaktu aku ngajak kamu cepet pulang dari Cafe tadi, sebenarnya maksudku supaya kamu nggak ketemu atau dekat lagi dengan Putri...”
(“Oh Shiit............so sweeeeet buoook...”)Bisik Steven dalam hati..................
EIiiiiTS.......tunggu dulu. Bosen ah, dari tadi kok dalam hati melulu, sekali-kali dalam batin gitu....!
OK............ok
Bisik Steven dalam batin
Kali ini Steven yang terdiam membisu
Pembicaraan berhenti lagi sesaat
“Steve...................sebenarnya Aku juga CINTA SAMA KAMU...”
.................................................................................
Seketika jantung Steven seperti berhenti berdetak, hanyut dalam ombak dan tenggelam di kedalaman samudera cinta.
“Jadi....................?” Tiba-tiba Steven bertanya
“jadi apa...........” patricia menjawab dengan pelan dan tersipu malu
“Jadi...............kamu mau jadi pacarku?”
.................................................................
Kembali pembicaraan terhenti sejenak

“Steve..........................iya...........aku mau” Saut Patricia tersipu
“Jadi.......?”
“Jadi............apa lagi Steve...?
“Kita jadian...?”
“Mmmmmm...........yaa........... gitu deh..........!”

DUAR..........!!!!!!
DER....!!!!!!
DOR........!!!!!


TAR..............!!!!
TER...............!!!!
TOR..............!!!!


.......................

BLUS......BLUS.........!!!
JES.......JES.......

...........Perasaan Steven meledak-ledak................tak peduli meskipun jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Steven berteriak keras............!!
YYYEEEEEAAAAACHH.......!!!!
Setelah sekian lama mempermainkan cinta, akhirnya Steven berhasil menemukan cinta sejatinya.
PATRICIA.................
Ya................Cinta sejati Steven
“Terima kasih Tuhan..............ini adalah anugerah terbesar dalam hidupku.................mulai saat ini aku akan lebih menghargai cinta....................cinta yang penuh perjuangan untuk mendapatkannya. Ternyata inilah yang dinamakan cinta   sejati................................oh............Tuhan.................ternyata memang benar kata orang-orang.................kekuatan cinta sanggup mengubah segalanya.........................yaaa...............aku akan berubah..............!!!” Steven berteriak seperti orang mabok.
Tak sadar, Telpon belum ditutup........................

“Patricia.................kamulah cinta sejatiku.............kamu yang selama ini aku cari.................Patricia.....................patricia.....................aku cinta kamu...............” Teriak Steven sambil menari-nari di atas tempat tidurnya.
“Halo.........halo........Steve............Steve..........!!!” Patricia berteriak keras-keras.
Steven tak lagi mendengar........... karena asyik meluapkan kegembiraannya.






-------------------*****--------------------







Ok...........begitulah kisah perjalanan cinta Steven dalam menemukan cinta sejatinya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam penulisan atau dalam pemakaian kata-kata. Jika kurang berkenan silahkan anda pendam sendiri perasaan itu.
Tidak ada sedikitpun maksud untuk mengolok-olok atau mengajarkan sesuatu yang buruk kepada para pembaca yang sudah merelakan sedikit waktunya untuk membaca sebuah karya bungkus kacang ini.
Sampai disini dulu.......cerita ini. Sampai ketemu dilain kesempatan. Jangan lupa tetep tongkrongi bungkus-bungkus kacang saya berikutnya.

Bye..............................






Keesokan paginya.............................
Dengan penuh semangat, Steven sarapan pagi bersama ayah dan bundanya. Ia sudah tak sabar untuk memulai hari barunya di sekolah.
Tapi
Tiba-tiba
“BUNDAAAA...............AYAH...........SIAPA YANG UDAH NGABISIN PULSAKU INI....................??.”
Dengan santai, Steven mengunyah rotinya. Tersenyum sendiri dan segera pasang muka pura-pura bodoh.
“He....he......he.............rasain lu.........”


      ----------------------SEKIAN------------------------

NB: Jika Cinta mulai menyengsarakan dirimu, maka sudah saatnya kamu berpikir apakah cintamu itu cinta sejati atau hanya cinta nafsu. Cinta sejati itu hanya akan menuntunmu ke arah hidup yang lebih bermakna. Tentu saja setelah melewati berbagai macam ujian dan rintangan yang selalu tak mudah untuk dilewati.

HABIS............BEGO’...!
PAKE’ baca-baca LAGI.......


KENAPA....?

MASIH BELUM PUAS...?
KETAGIHAN...?
MAKANYA.......
TUNGGU .......BUNGKUS-BUNGKUS KACANGKU BERIKUTNYA......PASTI LEBIH SERU N’ LEBIH NORAK LAGI.....
................................